80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Kecamatan Panti, Jember, Jawa Timur ยท Kode Pos 68153
Batas wilayah administratif Desa Pakis
-
Identitas resmi wilayah
Hubungi atau kunjungi sekretariat desa
Kondisi fisik & alam desa
Batas geografis luar desa
Aparatur pelaksana penyelenggaraan pemerintahan desa
Kepala Desa
Mitra kerja pemerintah desa
Pembagian wilayah administratif
Data kependudukan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan
Fasilitas umum dan infrastruktur yang tersedia di desa
Informasi dan berita terkini
Dalam rangka memberikan edukasi pranikah kepada calon pengantin (catin), KUA (Kantor Urusan Agama) Kecamatan Panti bekerjasama dengan mahasiswa KKN Kolaborasi Posko 156 Desa Pakis menggelar kegiatan pendampingan pada hari Jumat tanggal 15 Agustus. Tujuan kegiatan ini ialah untuk membekali para calon pengantin dengan pengetahuan seputar kehidupan rumah tangga, kesehatan reproduksi dan komunikasi dalam pernikahan. Prosesi pernikahan di KUA melibatkan beberapa tahapan yang perlu dipersiapkan, antara lain persiapan dokumen seperti KTP, akta lahir, surat pengantar dari desa/ kelurahan dan beberapa dokumen lainnya. Kemudian, ย calon pengantin yang sudah terdaftar akan dijadwalkan untuk mengikuti bimbingan perkawinan (BIMWIN) yang diselenggarakan di KUA terlebih dahulu. Dalam bimbingan ini catin (Calon Pengantin) akan mendapat beberapa pengetahuan serta gambaran setelah menikah seperti manajemen keuangan, manajemen konflik, dan saran terkait harta gono gini. Pasangan catin akan diberikan saran untuk melakukan perjanjian pranikah terlebih dahulu sebelum akad nikah. Sebelum kegiatan pendampingan dimulai, mahasiswa KKN turut serta dalam memeriahkan acara lomba yang diadakan oleh pihak KUA Kecamatan Panti. Untuk pertama kalinya suasana di halaman KUA tampak meriah dengan adanya rangkaian lomba dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Lomba 17-an ini diikuti oleh para pegawai KUA serta mahasiswa KKN Kolaborasi Posko 156. Dalam lomba tersebut terjalin keakraban dan semangat kebersamaan antar peserta. Beberapa perlombaan yang diadakan antara lain lomba estafet hula hoop, mencocokkan warna cairan dalam botol, dan estafet tiup balon dalam gelas berisi air. Tawa dan sorak sorai peserta menambah semarak suasana, sekaligus mempererat hubungan antara pihak KUA dan para mahasiswa. Setelah lomba selesai, kegiatan inti berupa pendampingan calon pengantin dimulai di aula KUA. Mahasiswa KKN turut membantu dalam persiapan dan pelaksanaan acara, seperti dokumentasi pada waktu berlangsungnya bimbingan perkawinan. Terdapat dua pasang calon pengantin yang mendapatkan bimbingan secara bersama-sama, masing-masing calon pengantin tersebut berasal dari Desa Pakis. Materi pendampingan disampaikan oleh penyuluh agama Islam dari KUA Panti yang membahas pentingnya kesiapan mental, spiritual, serta komitmen dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Beberapa pertanyaan disampaikan oleh pihak penyuluh guna mengingatkan bahwa visi dan misi dalam berumah tangga haruslah sejalan dan sama sehingga beberapa konflik yang mungkin terjadi dapat diatasi. Selain itu, ditekankan juga bahwa membangun komitmen yang kuat antara pasangan itu penting untuk menghadapi berbagai dinamika dan tantangan yang muncul dalam kehidupan rumah tangga. Materi yang disampaikan dengan penuh dedikasi dan bersifat informatif ini diharapkan dapat menjadi bekal dalam berumah tangga bagi pasangan catin tersebut agar terwujud sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.
Desa Pakis, Kecamatan Panti โ Di balik kabut pagi dan aroma tanah basah lereng Argopuro, Desa Pakis menyimpan rasa yang tak sekadar nikmat di lidah, tapi juga menggugah kesadaran: kopi Rengganis. Dan di tengah geliat produksi kopi lokal itu, nama Bapak Muarif menjadi sosok sentral yang meracik cita rasa sekaligus merawat identitas desa. Sebagai petani sekaligus produsen utama kopi Rengganis, Bapak Muarif telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga kualitas biji kopi yang tumbuh di tanah Pakis. Dengan metode pengolahan yang terus disempurnakan, ia tak hanya menghasilkan kopi berkarakter, tapi juga membangun narasi desa yang berdaya. โKami ingin kopi ini bukan cuma jadi komoditas, tapi jadi kebanggaan. Rasa yang lahir dari tanah sendiri, dari tangan sendiri,โ ujar Bapak Muarif saat ditemui di rumah produksi miliknya. Produksi kopi Rengganis kini semakin siap bersaing di pasar yang lebih luas. Usaha kopi milik Bapak Muarif telah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha), sertifikasi Halal, dan izin PIRT sebagai bukti keseriusan dan komitmen terhadap standar mutu dan keamanan pangan. Jenis kopi yang ditanam adalah Robusta, sesuai dengan karakter geografis Desa Pakis yang berada di ketinggian variatif antara 400 hingga 600 mdpl, dengan sebagian area di bawah 800 mdpl. Kondisi ini menjadikan Robusta sebagai pilihan paling cocok secara agronomis. Panen dilakukan dengan dua metode:ย ย - Petik Asalan, untuk kebutuhan pasar umumย ย - Petik Merah, khusus untuk pecinta kopi dan pasar specialtyย ย Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas produksi sesuai segmen pasar, sekaligus menjaga kualitas rasa bagi penikmat kopi sejati. Meski belum memiliki alat ukur kadar air, Bapak Muarif tetap menjaga standar dengan kadar air maksimal 12%, dan diupayakan mencapai 11,5%. Pengukuran dilakukan secara tradisional, berdasarkan ciri-ciri fisik biji kopi yang telah ia pelajari dari pengalaman bertahun-tahun. โKami belum punya alat, tapi kami punya mata, tangan, dan naluri. Itu yang kami pakai untuk jaga kualitas,โ ujar beliau sambil menunjukkan biji kopi hasil sangrai. Kini, kopi Rengganis tak hanya diseduh di warung desa, tapi mulai merambah festival lokal, pasar komunitas, bahkan jadi bahan diskusi advokasi mahasiswa. โCita Rasa Pakisโ bukan sekadar slogan, tapi gerakan: menyatukan petani, pemuda, dan warga dalam satu narasi tentang desa yang bangkit lewat rasa.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif (KKN-K) kelompok 156 menggelar kegiatan edukatif bertajuk โPentingnya Identitas Hukum dalam Kehidupan Warga Desaโ di Balai Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya advokasi mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya administrasi kependudukan (adminduk) sebagai hak dasar warga negara. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (14/8) ini dihadiri oleh puluhan warga dari berbagai dusun di Desa Pakis, termasuk Dusun Krajan dan Dusun Pertelon. Dengan pendekatan dialogis dan partisipatif, mahasiswa KKN-K 156 menyampaikan materi tentang fungsi KTP, KK, akta kelahiran, dan dokumen hukum lainnya dalam mengakses layanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan hukum. Koordinator KKN-K 156, Aditya Bintang Imani, menyampaikan bahwa identitas hukum bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol eksistensi warga dalam sistem negara. โTanpa identitas hukum, seseorang bisa dianggap tidak ada oleh negara. Ini bukan hanya soal data, tapi soal martabat dan hak,โ tegasnya di hadapan peserta. Dalam sesi diskusi, beberapa warga mengungkapkan kendala yang mereka hadapi, mulai dari keterbatasan akses informasi, biaya pengurusan, hingga ketakutan terhadap birokrasi yang rumit. Mahasiswa KKN-K 156 merespons dengan memberikan simulasi pengisian formulir, penjelasan alur pengurusan, serta membuka layanan konsultasi gratis selama masa KKN berlangsung. Kepala Desa Pakis, Bapak Zaeni, mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang dinilai mampu menjembatani kesenjangan informasi antara pemerintah desa dan masyarakat. โKami butuh anak muda seperti mereka yang tidak hanya belajar di kampus, tapi juga turun ke desa, mendengar, dan membantu,โ ujarnya. Selain edukasi hukum, kegiatan ini juga dirangkai dengan pembagian leaflet informatif, poster visual, dan sesi tanya jawab interaktif. Mahasiswa menggunakan pendekatan visual yang humanis dan mudah dipahami, agar pesan advokasi tidak hanya sampai di kepala, tapi juga menyentuh hati warga. Kegiatan ini menjadi bagian dari misi besar KKN-K 156 untuk membangun desa sadar hukum, di mana setiap warga memahami hak dan kewajibannya sebagai bagian dari sistem negara. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat, Desa Pakis diharapkan menjadi contoh gerakan literasi hukum dari akar rumput. Melalui kegiatan ini, KKN-K 156 tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif bahwa identitas hukum adalah pintu menuju kehidupan yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat. Desa Pakis telah memulai langkah kecil, namun bermakna, menuju transformasi sosial yang berakar pada kesadaran hukum.
Pakis, 16 Agustus 2025 โ Suasana Desa Pakis berubah menjadi lautan semangat dan warna dalam perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Di tengah gegap gempita karnaval tahunan, Mahasiswa KKN-K 156 hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai mitra warga dalam merangkai makna kemerdekaan yang lebih dalam dan berdampak. Kehadiran mahasiswa KKN disambut hangat oleh masyarakat. Sejak siang, mereka bergabung dalam persiapan karnaval, membantu warga menghias gerobak, menata kostum, dan menyiapkan atraksi. Mahasiswa turut serta dalam parade dengan membawa pesan-pesan edukatif yang menyentuh isu-isu desa, mulai dari literasi petani hingga penguatan identitas lokal. Parade karnaval dimulai dari Lapangan Desa Kemuning Lor dan menyusuri jalan utama menuju Lapangan Desa Pakis sebagai titik akhir. Diiringi dentuman โsound horegโ yang menggema dari truk modifikasi dan speaker warga, suasana menjadi meriah dan penuh energi. Mahasiswa KKN berjalan berdampingan dengan kelompok tani, ibu-ibu PKK, dan anak-anak sekolah. Di sepanjang rute, mereka membagikan leaflet edukatif tentang proses pasca-panen, kadar air kopi, dan pentingnya branding komunitas. Warga tampak antusias membaca dan berdiskusi langsung di tengah arak-arakan. Selain berpartisipasi dalam parade, mahasiswa KKN juga bertugas sebagai pengawas jalannya acara, mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan, serta membagikan kupon kepada peserta karnaval. Peran ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan semangat pelayanan, memastikan acara berlangsung tertib dan meriah. Koordinator KKN-K 156, Aditya Bintang Imani, menyampaikan bahwa partisipasi mereka bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk advokasi yang membumi. โKami ingin kemerdekaan dirasakan sampai ke akar rumput. Petani, pelaku UMKM, dan warga desa punya peran penting dalam membangun bangsa. Karnaval ini adalah ruang untuk menyuarakan itu,โ ujarnya. Selain parade, mahasiswa juga membuka stan edukasi di halaman balai desa. Stan tersebut menampilkan infografis tentang hak-hak petani, proses legalitas usaha mikro, dan potensi kopi Rengganis sebagai produk unggulan desa. Warga dari berbagai dusun datang silih berganti, bertanya, berdiskusi, bahkan membawa contoh produk untuk dikonsultasikan. Kepala Desa Pakis, Bapak Zaeni, mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN yang dinilai membawa semangat baru dalam pemberdayaan desa. โMereka tidak hanya belajar dari desa, tapi juga memberi. Kolaborasi ini sangat berarti bagi kami, terutama dalam mengangkat potensi lokal yang selama ini belum banyak diketahui,โ tuturnya. Karnaval tahun ini juga menjadi momentum reflektif bagi mahasiswa. Di tengah sorak-sorai, tawa anak-anak, dan dentuman musik remix khas desa, mereka menyadari bahwa advokasi tidak selalu harus formal dan kaku. Justru lewat seni, budaya, dan interaksi langsung, pesan-pesan edukatif bisa lebih mudah diterima dan dihayati oleh masyarakat. Bagi warga Pakis, kehadiran mahasiswa KKN membawa harapan baru. Mereka merasa didengar, dihargai, dan diajak berpikir bersama tentang masa depan desa. โBiasanya karnaval cuma ramai-ramai saja. Tapi sekarang kami juga belajar. Rasanya seperti benar-benar merdeka,โ ujar Ibu Siti, salah satu peserta dari Dusun Krajan. Dengan semangat kolaborasi, edukasi, dan budaya, Mahasiswa KKN-K 156 dan warga Desa Pakis telah merangkai kemerdekaan dalam bentuk yang paling nyata: kebersamaan, kesadaran, dan harapan. Karnaval bukan sekadar perayaan, tetapi panggung perubahan yang dimulai dari desa
Pakis, 11 Agustus 2025 โ Di tengah semangat gotong royong yang tak pernah padam, Desa Pakis kembali menegaskan komitmennya dalam membangun perencanaan desa yang inklusif dan partisipatif. Dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) 2026 dan Daftar Usulan (DU) RKPDesa 2027, pemerintah desa menggandeng RT/RW sebagai garda terdepan aspirasi warga, serta mahasiswa KKN-K 156 sebagai mitra strategis dalam fasilitasi dan dokumentasi proses. ย Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini bukan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi momentum reflektif untuk menyusun arah pembangunan desa secara kolektif. Pemerintah desa secara terbuka menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para ketua RT dan RW yang hadir aktif, menyampaikan gagasan, dan membawa suara masyarakat dari lorong-lorong kampung hingga meja musyawarah. ย "RT dan RW adalah ujung tombak kami. Mereka bukan hanya penyambung lidah warga, tapi juga penjaga harapan desa. Kami sangat mengapresiasi keterlibatan mereka dalam proses ini,โ ujar Kepala Desa Pakis, Bapak Zaeni, dalam sambutannya. ย Kehadiran mahasiswa KKN-K 156 turut memperkuat proses ini. Mereka tidak hanya menjadi pendamping teknis, tetapi juga fasilitator dialog, penyusun dokumentasi, dan penggerak partisipasi warga. Dengan pendekatan yang komunikatif dan humanis, mahasiswa berhasil membuka ruang-ruang diskusi yang selama ini terasa formal dan kaku. ย โKami belajar banyak dari warga, dari RT dan RW, tentang bagaimana pembangunan seharusnya dimulai dari mendengar. RKPDesa bukan sekadar program, tapi cermin dari mimpi bersama,โ ungkap Dimas Aji Pangestu Sultan Abdi Negara, Gubernur BEM FH UIJ sekaligus anggota KKN-K 156. ย Dalam forum-forum kecil yang digelar di balai desa, warung kopi, hingga teras rumah warga, mahasiswa dan perangkat desa bersama-sama merumuskan prioritas pembangunan: dari perbaikan jalan lingkungan, penguatan ekonomi lokal, hingga pengembangan literasi hukum dan pendidikan masyarakat. Semua usulan dicatat, dipetakan, dan disusun dalam DU RKPDesa 2027 sebagai bahan perencanaan jangka menengah. ย โKami merasa dihargai. Biasanya hanya diminta hadir, sekarang kami diminta bicara. Ini baru musyawarah yang hidup,โ ujar salah satu Ketua RT di Dusun Pertelon, dengan antusias. ย Pemerintah desa juga berkomitmen untuk menjadikan hasil musyawarah ini sebagai dasar utama dalam penyusunan APBDesa dan program kerja tahun berikutnya. Tidak ada lagi pembangunan yang lahir dari ruang tertutup. Semua dimulai dari suara warga, difasilitasi oleh mahasiswa, dan dikawal oleh perangkat desa. ย Kehadiran KKN-K 156 di Desa Pakis menjadi bukti bahwa kolaborasi kampus dan desa bukan hanya soal pengabdian, tetapi tentang membangun sistem yang mendengar, merangkul, dan bergerak bersama. Di Desa Pakis, masa depan tidak ditentukan oleh segel, tetapi oleh suara. Dan suara itu kini bergema dari RT, RW, dan mahasiswa yang percaya bahwa perubahan dimulai dari mendengar. ย
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi posko 156 merupakan gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan sedang melakukan tugasnya untuk mengabdi kepada masyarakat yang bertempat di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Dalam rangka mengembangkan kemampuan emosional siswa sejak usia dini, mahasiswa KKN melaksanakan sosialisasi tentang regulasi emosi di SDN Pakis 01 pada pukul 09.00 WIB. Sosialisasi ini bertujuan untuk mengenalkan konsep regulasi emosi kepada siswa-siswi kelas 3. Regulasi emosi adalah pengenalan emosi untuk memahami, mengelola dan mengungkapkan emosi yang dirasakan secara tepat. Regulasi yang efektif dapat mengurangi berbagai dampak negatif dan stres. Selain itu, saat seseorang mampu mengenali dan mengelola emosinya maka suasana hati akan lebih bahagia dan merasa puas sehingga hubungan sosial yang lebih baik dengan orang lain akan menjadi harmonis. Kegiatan sosialisasi ini dimulai dengan sesi nonton bersama film animasi โinside outโ yang berdurasi satu jam enam puluh menit, merupakan film edukasi yang berisi tentang pemahaman dunia emosi dengan menggambarkan lima emosi utama yaitu bahagia, sedih, marah, takut dan jijik. Film ini memberikan pelajaran bahwa setiap emosi memiliki fungsi masing-masing dalam kehidupan, baik itu emosi yang positif maupun negatif. Film ini menjadi pilihan yang tepat karena dalam setiap karakternya memiliki warna-warni yang memudahkan untuk diingat oleh anak-anak. Selain itu, melalui visualisasi dan cerita yang digambarkan dapat membantu anak untuk melatih kognitif anak seperti proses berpikir, belajar, memahami dan mengingat informasi terkait emosi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menonton film animasi tersebut, sesi selanjutnya adalah pemaparan materi tentang regulasi emosi yang mencangkup pengertian emosi dan macam-macam emosi dasar. Pemaparan materi ini disampaikan dengan metode interaktif dan menyenangkan. Tujuan utama dari penyampaian materi ini ialah agar anak-anak dapat mengenal, memahami dan mengontrol emosi yang mereka rasakan guna membangun hubungan yang positif antar sesama teman. Di ujung acara mahasiswa KKN memberikan lembar kerja kepada anak-anak untuk menggambarkan ekspresi atau perasaan. Gambar raut wajah di gambar sesuai dengan keterangan yang tertera pada lembaran tersebut seperti sedih, senang, takut dan marah. Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat menunjukkan pemahaman mereka terhadap berbagai jenis emosi yang telah dipelajari.
Pakis, Panti - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif (KKN-K) kelompok 156 dari Desa Pakis melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema โPencegahan Pernikahan Diniโ di MTs As Shiddiqi, Desa Pakis, Kabupaten Jember. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, 6 Agustus 2025, dan diikuti oleh puluhan siswa kelas VII, VIII dan IX. Sosialisasi ini merupakan bagian dari program kerja KKN-K 156 yang berfokus pada peningkatan kesadaran remaja terhadap pentingnya pendidikan dan kesehatan reproduksi. Dengan mengangkat isu pernikahan dini, mahasiswa berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada para siswa tentang dampak negatif dari menikah di usia muda. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan disambut baik oleh Kepala Sekolah MTs As Shiddiqi. Materi sosialisasi disampaikan oleh beberapa mahasiswa KKN yang berasal dari berbagai jurusan, seperti Kesehatan Masyarakat, Pendidikan, Manajemen, dan Hukum. Mereka menjelaskan faktor-faktor penyebab pernikahan dini, seperti tekanan sosial, ekonomi, dan kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi. Selain itu, mahasiswa juga memaparkan dampak pernikahan dini terhadap pendidikan, kesehatan mental, dan fisik remaja. Mereka menekankan bahwa menikah di usia muda dapat menghambat cita-cita dan masa depan, terutama bagi perempuan yang lebih rentan mengalami putus sekolah dan komplikasi kehamilan. Sesi diskusi interaktif menjadi bagian yang paling menarik bagi para siswa. Mereka diajak untuk menyampaikan pendapat, bertanya, dan berbagi pengalaman terkait isu pernikahan dini di lingkungan sekitar. Beberapa siswa mengaku baru mengetahui bahwa pernikahan dini memiliki risiko yang cukup serius. Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN-K 156 juga membagikan leaflet edukatif dan mengadakan kuis berhadiah kecil sebagai bentuk apresiasi kepada siswa yang aktif berpartisipasi. Kegiatan ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh antusiasme. Koordinator KKN-K 156, Aditya Bintang, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan edukatif. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di sekolah-sekolah lain di wilayah Bangsalsari. Dengan berakhirnya kegiatan sosialisasi ini, MTs As Shiddiqi dan mahasiswa KKN-K 156 berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, menyebarkan informasi yang telah mereka dapatkan, dan menolak praktik pernikahan dini demi masa depan yang lebih cerah.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Posko 156 Desa Pakis, sukses menyelenggarakan program kerja mereka yakni sosialisasi pembuatan teh dari kulit kopi (cascara). Kegiatan ini dilaksanakan pada Hari Jumat, tepatnya pukul 15.00 WIB. Dalam sosialisasi ini, mahasiswa KKN Kolaborasi penuh persiapan mulai dari jauh-jauh hari, hal ini dapat dilihat ketika para mahasiswa KKN tersebut sangat antusias dalam mempersiapkan bahan-bahan, meracik dan melakukan percobaan terlebih dahulu sebelum acara sosialisasi berlangsung. Kegiatan ini ditujukan kepada ibu-ibu muslimat setempat dikarenakan ibu-ibu di Desa Pakis sebagaian besar adalah petani kopi yang kurang bisa memanfaatkan kulit kopi mereka, namun memiliki potensi besar untuk bisa mengolah limbah kulit kopi tersebut menjadi minuman herbal. Acara sosialisasi yang digelar di Balai Desa Pakis ini, bertujuan untuk memberikan wawasan dan inovasi dalam mengolah limbah kulit kopi menjadi minuman sehat dan bernilai jual. Produk yang dikenalkan oleh mahasiswa KKN ini dikenal dengan sebutan cascara dan memiliki arti minuman yang dibuat dari kulit luar buah kopi lalu kemudian dikeringkan. Selain, kulit kopi yang menjadi bahan utama, terdapat bahan-bahan lain yang juga menjadi komposisi dalam pembuatan produk cascaratea ini. Bahan-bahan tersebut meliputi, jahe, daun cengkeh, kayu manis, dan kayu secang yang dihaluskan. Sosialisasi diawali dengan pemaparan materi mengenai pengertian cascara, sejarah cascara, bahan-bahan yang perlu disiapkan, proses pembuatan, ย branding dan marketing. ย Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan praktik dalam membuat teh yang melibatkan interaksi aktif antara mahasiswa KKN dengan ibu-ibu muslimat. Bahan-bahan yang sudah disiapkan adalah bahan-bahan yang telah dikeringkan sehingga pada proses pembuatan ibu-ibu hanya membantu dalam proses menghaluskan bahan-bahan tersebut dengan cara diblender. Setelah dihaluskan proses selanjutnya adalah penentuan takaran dengan cara penimbangan untuk menghasilkan teh dengan takaran yang pas dan sesuai. Banyak dari ibu-ibu muslimat tampak antusias dalam mengikuti serangkaian acara tersebut, bahkan beberapa dari mereka aktif dalam bertanya terkait dengan cara penyimpanan dan bertahan berapa lama. Cascaratea ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengurangi limbah pertanian terutama kulit kopi dan menjadi produk yang memiliki manfaat bagi kesehatan karena perpaduan rempah-rempah dan kulit kopi yang dikeringkan. Disamping itu, melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pengolahan ini para ibu-ibu juga dapat menjadikan peluang usaha yang ramah lingkungan.
Pakis, Panti - 17 Juli menjadi titik awal pergerakan baru di Desa Pakis, Kecamatan Panti. Mahasiswa dari Universitas Islam Jember (UIJ), Universitas Jember (UNEJ), Institut Teknologi & Sains Mandala (ITSM), dan Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) yang tergabung dalam Posko 156 KKN Kolaboratif resmi diterjunkan untuk menjalankan program pengabdian masyarakat. Dengan semangat gotong royong, mereka hadir bukan sekadar sebagai pelaksana program kampus, tetapi sebagai mitra warga dalam membangun desa dari akar rumput. ย Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh perangkat desa dan masyarakat. Balai desa menjadi pusat aktivitas kolaboratif, mulai dari pelayanan bantuan sosial, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga survei Anak Tidak Sekolah (ATS). Mahasiswa Posko 156 aktif mendampingi proses administrasi bansos, sekaligus memperkenalkan teknologi Banpang Mobile untuk mempercepat dan mengefektifkan penyaluran bantuan. Inovasi ini menjadi langkah awal digitalisasi pelayanan desa yang inklusif. ย Tak hanya fokus pada bantuan sosial, mahasiswa juga melakukan survei ATS sebagai bagian dari upaya mendorong pemerataan pendidikan di Kecamatan Panti. Mereka mendatangi rumah-rumah warga, berdialog dengan orang tua, dan mencatat berbagai faktor yang menyebabkan anak putus sekolah. Data ini diolah untuk menjadi rekomendasi kebijakan desa yang lebih responsif terhadap isu pendidikan. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, menjadikan warga sebagai subjek perubahan, bukan objek program. ย Program pendampingan keluarga berisiko stunting juga menjadi sorotan. Mahasiswa bekerja sama dengan kader kesehatan desa untuk melakukan edukasi gizi, pola asuh, dan pemantauan tumbuh kembang anak. Kegiatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan keluarga sebagai fondasi pembangunan desa. Ibu-ibu desa terlibat aktif dalam diskusi, berbagi pengalaman, dan menyusun rencana aksi bersama. ย โKami merasa terbantu dengan kehadiran adik-adik mahasiswa. Mereka tidak hanya membantu administrasi, tapi juga mengajak warga berdiskusi soal pendidikan dan kesehatan,โ ujar Sekretaris Desa Pakis, Bapak Agus, saat ditemui di sela kegiatan pelayanan bansos. ย KKN Kolaboratif Posko 156 menjadi ruang perjumpaan antara idealisme kampus dan realitas desa. Mahasiswa belajar langsung dari dinamika sosial, birokrasi lokal, dan tantangan pembangunan. Di sisi lain, warga mendapatkan pendampingan yang konkret dan relevan dengan kebutuhan mereka. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari atas, tetapi bisa tumbuh dari interaksi sederhana di tingkat desa. ย โKami belajar langsung dari warga, dan sekaligus berusaha memberi kontribusi nyata. Ini bukan sekadar KKN, tapi proses tumbuh bersama,โ ungkap Koordinator Posko 156, Aditya ย Dengan semangat kolaboratif, Desa Pakis dan mahasiswa Posko 156 bergerak bersama menuju desa yang lebih inklusif, sehat, dan berdaya. KKN bukan lagi sekadar program wajib kampus, tetapi menjadi ruang transformasi sosial yang hidup, bermakna, dan berdampak nyata.
Pemerintah desa belum mengunggah potensi desa ke dalam portal ini.
Pusat transparansi data dan dokumentasi resmi keterbukaan informasi
Informasi yang wajib diperbarui dan disediakan secara rutin oleh badan publik tanpa perlu dimohonkan oleh masyarakat
| No | Nama Dokumen / Informasi | Aksi |
|---|---|---|
| Tidak ada dokumen dalam kategori ini. | ||
Informasi yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dan kondisi darurat yang harus segera disebarluaskan kepada masyarakat
| No | Nama Dokumen / Informasi | Aksi |
|---|---|---|
| Tidak ada dokumen dalam kategori ini. | ||
Informasi yang selalu siap diakses oleh pemohon kapan saja
| No | Nama Dokumen / Informasi | Aksi |
|---|---|---|
| Tidak ada dokumen dalam kategori ini. | ||
Informasi yang sifatnya rahasia dan tidak boleh diakses oleh publik demi melindungi kepentingan negara atau hak pribadi seseorang
| No | Nama Dokumen / Informasi | Aksi |
|---|---|---|
| Tidak ada dokumen dalam kategori ini. | ||
Dokumen telah diverifikasi sebagai rilis Informasi Publik Desa.
Pusat transparansi data dan dokumentasi resmi desa
Dokumen perencanaan pembangunan desa untuk jangka waktu 5 tahun sebagai pedoman arah kebijakan desa
Rencana tahunan pemerintah desa yang memuat program dan kegiatan sesuai RPJM Desa
Dokumen anggaran resmi desa yang memuat pendapatan, belanja, dan pembiayaan desa dalam satu tahun
Laporan tahunan kepala desa mengenai pelaksanaan pemerintahan desa kepada masyarakat dan pemerintah daerah
Dokumen laporan keuangan desa beserta daftar aset dan investasi yang dimiliki
Dokumen atau kumpulan data komprehensif yang memberikan gambaran menyeluruh tentang karakteristik, potensi, dan tingkat perkembangan suatu desa
Dokumen data dan informasi sistematis yang menggambarkan profil, kondisi, serta potensi menyeluruh dari suatu wilayah desa
Publikasi Potensi Desa merupakan publikasi yang berisi data dan indikator strategis mengenai kondisi dan potensi yang ada di desa/kelurahan.
Publikasi data statistik desa yang memuat angka-angka penting terkait kondisi sosial, ekonomi, dan demografi
Laporan tahunan penyelenggaraan layanan informasi publik di desa melalui PPID Desa
Dokumen publikasi berisi laporan kekayaan pejabat desa sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat
Informasi jadwal kegiatan desa yang dipublikasikan secara rutin agar masyarakat dapat mengikuti dan berpartisipasi
Pedoman resmi yang mengatur tata cara pelaksanaan tugas dan layanan pemerintahan desa untuk menjamin konsistensi dan kualitas
Produk hukum yang ditetapkan bersama kepala desa dan BPD untuk mengatur kehidupan masyarakat desa
Peraturan yang ditetapkan oleh kepala desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa
Keputusan administratif kepala desa yang bersifat penetapan atau kebijakan tertentu