80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Pakis, Panti - 17 Juli menjadi titik awal pergerakan baru di Desa Pakis, Kecamatan Panti. Mahasiswa dari Universitas Islam Jember (UIJ), Universitas Jember (UNEJ), Institut Teknologi & Sains Mandala (ITSM), dan Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) yang tergabung dalam Posko 156 KKN Kolaboratif resmi diterjunkan untuk menjalankan program pengabdian masyarakat. Dengan semangat gotong royong, mereka hadir bukan sekadar sebagai pelaksana program kampus, tetapi sebagai mitra warga dalam membangun desa dari akar rumput.
Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh perangkat desa dan masyarakat. Balai desa menjadi pusat aktivitas kolaboratif, mulai dari pelayanan bantuan sosial, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga survei Anak Tidak Sekolah (ATS). Mahasiswa Posko 156 aktif mendampingi proses administrasi bansos, sekaligus memperkenalkan teknologi Banpang Mobile untuk mempercepat dan mengefektifkan penyaluran bantuan. Inovasi ini menjadi langkah awal digitalisasi pelayanan desa yang inklusif.
Tak hanya fokus pada bantuan sosial, mahasiswa juga melakukan survei ATS sebagai bagian dari upaya mendorong pemerataan pendidikan di Kecamatan Panti. Mereka mendatangi rumah-rumah warga, berdialog dengan orang tua, dan mencatat berbagai faktor yang menyebabkan anak putus sekolah. Data ini diolah untuk menjadi rekomendasi kebijakan desa yang lebih responsif terhadap isu pendidikan. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, menjadikan warga sebagai subjek perubahan, bukan objek program.
Program pendampingan keluarga berisiko stunting juga menjadi sorotan. Mahasiswa bekerja sama dengan kader kesehatan desa untuk melakukan edukasi gizi, pola asuh, dan pemantauan tumbuh kembang anak. Kegiatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan keluarga sebagai fondasi pembangunan desa. Ibu-ibu desa terlibat aktif dalam diskusi, berbagi pengalaman, dan menyusun rencana aksi bersama.
“Kami merasa terbantu dengan kehadiran adik-adik mahasiswa. Mereka tidak hanya membantu administrasi, tapi juga mengajak warga berdiskusi soal pendidikan dan kesehatan,” ujar Sekretaris Desa Pakis, Bapak Agus, saat ditemui di sela kegiatan pelayanan bansos.
KKN Kolaboratif Posko 156 menjadi ruang perjumpaan antara idealisme kampus dan realitas desa. Mahasiswa belajar langsung dari dinamika sosial, birokrasi lokal, dan tantangan pembangunan. Di sisi lain, warga mendapatkan pendampingan yang konkret dan relevan dengan kebutuhan mereka. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari atas, tetapi bisa tumbuh dari interaksi sederhana di tingkat desa.
“Kami belajar langsung dari warga, dan sekaligus berusaha memberi kontribusi nyata. Ini bukan sekadar KKN, tapi proses tumbuh bersama,” ungkap Koordinator Posko 156, Aditya
Dengan semangat kolaboratif, Desa Pakis dan mahasiswa Posko 156 bergerak bersama menuju desa yang lebih inklusif, sehat, dan berdaya. KKN bukan lagi sekadar program wajib kampus, tetapi menjadi ruang transformasi sosial yang hidup, bermakna, dan berdampak nyata.