Logo Pemkab Jember

PPID Desa Jember

Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember

226
Total Desa
6525
Artikel Berita
131
Potensi
Pemerintahan Desa

Cita Rasa Pakis, Identitas Baru Desa Bapak Muarif dan Kopi Rengganis

Author
Desa Pakis Kec. Panti
17 Agustus 2025 428 Kali Dilihat

Desa Pakis, Kecamatan Panti — Di balik kabut pagi dan aroma tanah basah lereng Argopuro, Desa Pakis menyimpan rasa yang tak sekadar nikmat di lidah, tapi juga menggugah kesadaran: kopi Rengganis. Dan di tengah geliat produksi kopi lokal itu, nama Bapak Muarif menjadi sosok sentral yang meracik cita rasa sekaligus merawat identitas desa.

Sebagai petani sekaligus produsen utama kopi Rengganis, Bapak Muarif telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga kualitas biji kopi yang tumbuh di tanah Pakis. Dengan metode pengolahan yang terus disempurnakan, ia tak hanya menghasilkan kopi berkarakter, tapi juga membangun narasi desa yang berdaya.

“Kami ingin kopi ini bukan cuma jadi komoditas, tapi jadi kebanggaan. Rasa yang lahir dari tanah sendiri, dari tangan sendiri,” ujar Bapak Muarif saat ditemui di rumah produksi miliknya.

Produksi kopi Rengganis kini semakin siap bersaing di pasar yang lebih luas. Usaha kopi milik Bapak Muarif telah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha), sertifikasi Halal, dan izin PIRT sebagai bukti keseriusan dan komitmen terhadap standar mutu dan keamanan pangan.

Jenis kopi yang ditanam adalah Robusta, sesuai dengan karakter geografis Desa Pakis yang berada di ketinggian variatif antara 400 hingga 600 mdpl, dengan sebagian area di bawah 800 mdpl. Kondisi ini menjadikan Robusta sebagai pilihan paling cocok secara agronomis.

Panen dilakukan dengan dua metode:  

- Petik Asalan, untuk kebutuhan pasar umum  

- Petik Merah, khusus untuk pecinta kopi dan pasar specialty  

Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas produksi sesuai segmen pasar, sekaligus menjaga kualitas rasa bagi penikmat kopi sejati.

Meski belum memiliki alat ukur kadar air, Bapak Muarif tetap menjaga standar dengan kadar air maksimal 12%, dan diupayakan mencapai 11,5%. Pengukuran dilakukan secara tradisional, berdasarkan ciri-ciri fisik biji kopi yang telah ia pelajari dari pengalaman bertahun-tahun.

“Kami belum punya alat, tapi kami punya mata, tangan, dan naluri. Itu yang kami pakai untuk jaga kualitas,” ujar beliau sambil menunjukkan biji kopi hasil sangrai.

Kini, kopi Rengganis tak hanya diseduh di warung desa, tapi mulai merambah festival lokal, pasar komunitas, bahkan jadi bahan diskusi advokasi mahasiswa. “Cita Rasa Pakis” bukan sekadar slogan, tapi gerakan: menyatukan petani, pemuda, dan warga dalam satu narasi tentang desa yang bangkit lewat rasa.

Bagikan: