80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Potrait : Pengusaha Tape Arumanis Pondokdalem, Halimah, saat diwawancarai mengenai proses pembuatan tape
UMKM, SEMBORO β Di balik aroma manis dan rasa legit dari tape singkong, terdapat cerita perjuangan dan ketekunan seorang ibu rumah tangga di Desa Pondokdalem, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Pada Senin, 21 Juli 2025, Mahasiswa KKN Kolaboratif Posko 117 melakukan kunjungan dan analisis terhadap rumah produksi tape milik Ibu Halima, yang juga menjabat sebagai Ketua RT 16 desa setempat.
Tape Arumanis, yang telah berdiri sejak 2015, merupakan usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun. Dikelola sepenuhnya oleh Ibu Halima selama satu dekade terakhir, usaha ini sempat menghadapi masa sulit, terutama pada puncak pandemi COVID-19 pada tahun 2020β2021. Meskipun demikian, Ibu Halima terus bertahan dengan semangat.
βUsaha ini mulanya milik orang tua saya, lalu saya lanjutkan. Waktu pandemi sempat menurun, tapi alhamdulillah sekarang mulai stabil kembali,β ujar Ibu Halima saat diwawancarai di kediamannya.
Proses produksi dimulai dengan pemilihan bahan baku terbaik, yaitu singkong yang dipasok oleh petani lokal Semboro hingga 100 kg per produksi. Dibantu dua pekerja, Ibu Halima menjalankan serangkaian proses mulai dari pengupasan, perebusan, penirisan, pemberian ragi, hingga fermentasi beberapa hari.
Menariknya, Tape Arumanis tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga lebih aman dikonsumsi. Namun, masa simpannya terbatas hanya lima hari setelah fermentasi selesai.
Untuk distribusi luar kota, tape dikemas dalam besek bambu berlapis daun pisang, sementara untuk pasar lokal menggunakan kantong plastik. Tape yang dikirim ke luar kota diproses saat masih dalam tahap fermentasi, sehingga tiba di tujuan dalam kondisi matang sempurna.
βTape yang dikirim ke luar kota belum matang, jadi nanti pas sampai sudah siap untuk dikonsumsi. Biasanya pakai kargo kereta atau bus,β katanya.
Tape Arumanis tidak hanya dijual di pasar tradisional Jember, tetapi juga telah merambah kota-kota seperti Madiun dan Bojonegoro. Uniknya, tape ini tidak diberi label usaha karena rumah produksi berfungsi sebagai pemasok utama bagi pedagang luar kota. Meski demikian, tetap dicantumkan bahwa produk tersebut berasal dari Kota Jember.
Dalam hal promosi, Ibu Halima memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Facebook, dan WhatsApp. Dari ketiganya, WhatsApp dianggap paling efektif, karena banyak pelanggan luar kota yang telah menyimpan nomor kontaknya dan melakukan pemesanan langsung.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan mendorong potensi lokal agar semakin berkembang dan dikenal luas. Mahasiswa berharap Tape Arumanis dapat naik kelas, tidak hanya dikenal sebagai jajanan pasar biasa, tetapi juga menjadi identitas kuliner Jember yang mampu bersaing secara nasional.
βKami melihat ini bukan hanya soal tape, tetapi juga tentang ketekunan dan potensi besar dari jajanan lokal yang bisa menembus pasar lebih luas,β ujar salah satu mahasiswa KKN
Pewarta : Maisie Alma C
Editor Β : Zuh rotul Lailiyah