Logo Pemkab Jember

PPID Desa Jember

Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember

226
Total Desa
6438
Artikel Berita
131
Potensi
Pemerintahan Desa

Sosialisasi Manfaat Limbasekara oleh mahasiswa KKN Kolaboratif di Desa Serut

Author
Desa Serut Kec. Panti
20 Agustus 2025 231 Kali Dilihat

Pada suatu kesempatan di awal bulan Agustus 2025, mahasiswa KKN Kolaboratif Posko 154 Desa Serut, Kecamatan Panti, melaksanakan kegiatan sosialisasi yang berfokus pada pemanfaatan limbah sekam padi menjadi produk bernilai ekonomi. Kegiatan ini bertempat di Dusun Krajan dan dihadiri oleh masyarakat setempat, perangkat desa, serta tokoh masyarakat yang antusias untuk mengetahui manfaat dari program yang diinisiasi mahasiswa. Sosialisasi ini mengangkat tema “Limbasekara: Limbah Sekam Ramah Lingkungan sebagai Media Tanam Anggrek dan Penunjang Perekonomian Desa.”

Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kenyataan bahwa Desa Serut memiliki produksi padi yang cukup melimpah. Dari proses pengolahan gabah, selalu dihasilkan sekam padi dalam jumlah besar. Selama ini, sebagian besar sekam hanya ditumpuk, dibakar, atau dibiarkan begitu saja tanpa pemanfaatan yang jelas. Kondisi ini menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari polusi udara akibat pembakaran, hingga limbah pertanian yang kurang bernilai tambah. Melihat persoalan tersebut, mahasiswa KKN berinisiatif memperkenalkan sebuah inovasi sederhana bernama Limbasekara (Limbah Sekam Ramah Lingkungan), yang dapat diolah menjadi arang sekam dan selanjutnya digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hias seperti anggrek.

Dalam sesi pemaparan, mahasiswa menjelaskan bahwa arang sekam memiliki banyak manfaat. Teksturnya yang ringan, sifatnya yang porous, serta kemampuannya menjaga kelembaban menjadikannya media tanam yang sangat baik untuk anggrek. Tidak hanya itu, arang sekam juga membantu perakaran tanaman tumbuh lebih sehat, memperlancar sirkulasi udara, serta mengurangi risiko pembusukan akar. Keunggulan ini membuat arang sekam banyak dicari oleh pecinta tanaman hias, penghobi anggrek, maupun pelaku usaha pertanian perkotaan. Dengan demikian, limbah yang semula dianggap tidak bermanfaat, kini justru memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sosialisasi tidak berhenti hanya pada penjelasan teknis. Mahasiswa juga memberikan demonstrasi singkat tentang cara mengolah sekam menjadi arang sekam. Prosesnya relatif mudah, yakni dengan membakar sekam menggunakan metode tertentu agar tidak habis menjadi abu, melainkan berubah menjadi arang sekam. Demonstrasi ini membuat masyarakat lebih mudah memahami alur pengolahan, sekaligus melihat peluang usaha yang bisa dikembangkan.

Selain aspek teknis, mahasiswa juga menekankan pentingnya nilai ekonomi dari Limbasekara. Produk arang sekam dapat dikemas dengan menarik dan dipasarkan sebagai media tanam organik ramah lingkungan. Harga jualnya pun cukup menjanjikan, terlebih permintaan terhadap media tanam meningkat seiring dengan tren bercocok tanam di perkotaan. Jika dikelola secara berkelanjutan, usaha ini bisa menjadi tambahan sumber penghasilan bagi masyarakat Desa Serut. Dengan kata lain, Limbasekara tidak hanya menjaga lingkungan dari limbah pertanian, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Tokoh masyarakat Krajan menyambut baik gagasan ini. Menurut mereka, sekam padi yang selama ini menumpuk akhirnya bisa dimanfaatkan dengan lebih bijak. Apalagi, Desa Serut memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan hasil pertanian yang besar. Jika program ini dijalankan secara konsisten, maka potensi desa dapat tergarap optimal, dan masyarakat tidak lagi bergantung hanya pada hasil penjualan padi. Produk turunan seperti Limbasekara bisa menjadi inovasi unggulan desa.

Di akhir kegiatan, mahasiswa KKN mengajak masyarakat untuk ikut serta mengembangkan program ini secara bersama-sama. Harapannya, sosialisasi Limbasekara bukan hanya berhenti pada tingkat pengetahuan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, akan tercipta siklus ekonomi baru berbasis potensi lokal: dari limbah pertanian menjadi produk ramah lingkungan, lalu dipasarkan sebagai komoditas yang bernilai. Kegiatan sosialisasi ini memberikan pesan penting bahwa inovasi sederhana pun bisa membawa manfaat besar bagi lingkungan dan perekonomian desa. Melalui Limbasekara, masyarakat Krajan Desa Serut diajak untuk melihat limbah bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang. Jika dikelola dengan baik, limbah sekam padi dapat menjadi “emas hitam” baru yang memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Bagikan: