80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Solusi Ekologis Mahasiswa KKN Kolaboratif: Pagupon untuk Kendalikan Hama Tikus
Â
Â
[Jember, 4/8]Â â Maraknya serangan hama tikus yang merugikan petani mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif (KKN-K) Kabupaten Jember untuk menciptakan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga ramah lingkungan. Bertempat di Desa Rowoindah, para mahasiswa menginisiasi pembangunan pagupon atau rumah burung hantu sebagai bentuk pengendalian hayati terhadap populasi tikus di area persawahan.
Â
Inovasi ini muncul dari keprihatinan terhadap tingginya kerusakan tanaman padi akibat hama tikus. Selama ini, mayoritas petani masih mengandalkan racun kimia yang berisiko mencemari lingkungan dan membahayakan hewan non-target. Sebagai alternatif, mahasiswa memperkenalkan konsep pagupon, sebuah tempat sarang buatan untuk menarik burung hantuâpredator alami tikusâkembali ke habitat pertanian.
âKami berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang seimbang. Burung hantu adalah pemangsa tikus yang sangat efektif, namun populasinya menurun karena minimnya tempat bersarang dan pandangan negatif dari masyarakat,â ujar Koordinator Desa, Muhammad Rozzan Muzakka.
Â
Dalam kurun waktu dua pekan pelaksanaan KKN, mahasiswa sukses membangun dan mendirikan tiga unit pagupon di area persawahan yang strategis. Pagupon tersebut dibuat dari bahan ramah lingkungan seperti bambu, kayu bekas, dan seng. Lokasinya dipilih berdasarkan titik rawan serangan tikus dan jarak dengan pemukiman warga agar tidak mengganggu ekosistem alami burung hantu.
Â
Selain pembangunan fisik, mahasiswa juga mengadakan sosialisasi kepada warga tentang peran penting burung hantu dan dampak negatif penggunaan pestisida kimia. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa burung hantu bukan makhluk mistis yang patut ditakuti, tetapi justru sahabat petani yang sangat membantu.
Respon dari masyarakat setempat pun positif. Petani menyambut baik inovasi ini karena dinilai lebih hemat, aman, dan mendukung pelestarian lingkungan.
âBiasanya kami pakai racun, tapi hasilnya tidak bertahan lama. Kalau bisa dibantu burung hantu, kenapa tidak? Semoga berhasil,â ungkap salah satu petani, Pak Basit
Melalui program ini, mahasiswa KKN tidak hanya hadir sebagai pelaksana kegiatan sosial, tapi juga sebagai agen perubahan yang menyumbang pengetahuan dan solusi jangka panjang berbasis ekologi.