80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Pada tanggal 1 Agustus 2025, segenap mahasiswa KKN Kolaboratif Posko 154 Desa Serut, Kecamatan Panti, melaksanakan kegiatan kerja bakti bersama masyarakat setempat. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bapak Sugik, selaku Kepala Dusun Krajan, Desa Serut. Fokus utama kerja bakti tersebut adalah perawatan tugu desa, sebuah monumen bersejarah yang selama ini menjadi identitas, kebanggaan, sekaligus simbol persatuan masyarakat Desa Serut.
Kegiatan kerja bakti ini tidak hanya dimaknai sebatas aktivitas fisik membersihkan tugu dan lingkungannya. Lebih dari itu, kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih mendalam, yakni untuk menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhur. Seiring dengan perkembangan zaman, nilai-nilai historis sering kali terlupakan. Melalui kerja bakti ini, mahasiswa KKN berusaha menghadirkan kembali kesadaran tersebut agar masyarakat, khususnya generasi muda, senantiasa memahami makna yang terkandung dalam setiap peninggalan sejarah.
Tugu yang menjadi objek kegiatan ini bukanlah tugu biasa. Di dalamnya tersimpan kisah perjuangan masyarakat Desa Serut pada masa penjajahan. Relief yang terpahat di tugu itu sarat akan simbolisme. Salah satu relief menggambarkan jenazah yang tergeletak di atas pohon bambu, yang melambangkan pengorbanan jiwa rakyat setempat dalam menghadapi serangan penjajah. Simbol ini menggugah rasa empati sekaligus mengingatkan akan pahitnya realitas peperangan, di mana korban jiwa berjatuhan, bahkan tubuh mereka terhempas hingga ke pucuk bambu akibat gempuran bom.
Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan bom yang sedang meledak. Simbol ini merepresentasikan kerasnya perlawanan, sekaligus menyiratkan trauma kolektif masyarakat saat menghadapi masa-masa mencekam ketika penjajah melancarkan serangan udara. Kisah ini menggambarkan bagaimana Desa Serut dahulu menjadi salah satu saksi bisu dari kekejaman perang. Suara ledakan, kepanikan warga, serta korban jiwa yang berjatuhan terekam dalam ingatan kolektif yang kemudian diabadikan dalam bentuk tugu bersejarah tersebut.
Di sisi lain, terdapat relief burung garuda yang mengepakkan sayapnya. Simbol ini penuh makna, karena merepresentasikan semangat kebebasan, keberanian, serta harapan akan persatuan bangsa. Garuda yang perkasa melambangkan kekuatan masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan setelah melalui penderitaan panjang akibat penjajahan. Dengan demikian, tugu tersebut tidak hanya mencatat kesedihan dan penderitaan, tetapi juga menyampaikan pesan optimisme serta tekad kuat untuk meraih kemerdekaan.
Menurut penuturan Bapak Sugik, tugu ini dibangun bukan sekadar sebagai monumen penghias desa, melainkan sebagai saksi bisu perjuangan dan pengorbanan masyarakat Serut di masa lampau. Beliau menegaskan bahwa setiap simbol yang terpahat di relief memiliki arti mendalam yang patut dipahami, dihayati, dan dijaga kelestariannya. Bagi beliau, merawat tugu berarti menghormati para leluhur yang telah gugur demi tanah air sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi penerus.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga. Mereka tidak hanya belajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai sejarah, budaya, dan persatuan. Melalui interaksi langsung dengan tokoh masyarakat, mahasiswa memahami bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak melulu diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik semata, tetapi juga dalam upaya melestarikan warisan sejarah yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan bersama.
Kegiatan kerja bakti ini juga mendapat respon positif dari warga setempat. Masyarakat merasa senang dan bangga karena mahasiswa turut berperan aktif dalam menjaga simbol desa mereka. Menurut warga, langkah ini bukan hanya sekadar aksi sosial, tetapi juga bentuk nyata dari sinergi antara generasi muda dan masyarakat desa dalam menjaga warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur. Gotong royong yang dilakukan bersama-sama semakin mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan muncul kesadaran bahwa menjaga warisan sejarah bukan hanya kewajiban segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Mahasiswa KKN telah memberikan teladan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk merawat tugu bersejarah. Sinergi antara mahasiswa, tokoh masyarakat, dan warga desa menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan rasa cinta tanah air masih tetap hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan kerja bakti merawat tugu desa ini bukan hanya berhasil memperindah tampilan fisik monumen, tetapi juga membangkitkan kembali semangat persatuan, penghormatan terhadap sejarah, dan kecintaan pada tanah air. Apa yang dilakukan mahasiswa KKN Posko 154 bersama masyarakat Desa Serut pada tanggal 1 Agustus 2025 ini diharapkan menjadi contoh baik yang bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk selalu menjaga dan merawat warisan sejarah sebagai identitas bangsa.