80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Nama "Rowosari" berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu rowo yang berarti rawa dan sari yang berarti harum. Sesuai namanya, wilayah ini memang memiliki rawa alami. Terdapat tanah berlumpur di Dusun Barat Sawah yang dapat menenggelamkan seseorang hingga kedalaman sekitar tujuh meter. Hingga kini, lokasi tersebut masih ada, dan konon tanahnya akan βbergetarβ jika ada orang yang mendekat.
Perubahan besar terjadi di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, sejak tahun 1993. Sebelum itu, desa ini tergolong sangat terisolasi dan masyarakatnya masih hidup dengan cara yang sederhana. Akses menuju Rowosari pun terbatas, bahkan jembatan penghubung kala itu hanya berupa jembatan darurat dari kayu.
Sejarah Desa Rowosari tak lepas dari sosok perintisnya, Bujuk Marlia, seorang pendatang asal Madura. Tokoh ini dikenal sebagai pembabat lahan di wilayah Sumberjambe dan Gunung Malang. Makam Bujuk Marlia hingga kini masih berada di Desa Rowosari, yang secara geografis berbatasan langsung dengan Sumberjambe di sebelah barat dan Gunung Malang di sebelah selatan, menjadikannya terletak di titik strategis di antara keduanya.
Tahun 1992 menjadi titik awal perubahan, saat listrik mulai masuk ke Rowosari. Kehadiran listrik memicu perkembangan pesat di berbagai bidang, termasuk teknologi, pendidikan, dan kesehatan. Masyarakat mulai merasakan kemudahan akses informasi, layanan kesehatan, serta peluang ekonomi yang lebih luas.
Potensi alam Rowosari menjadi modal utama kemajuan desa ini. Sembilan desa di Kecamatan Sumberjambe, Rowosari dikenal sebagai yang paling unggul dalam sektor pertanian. Air yang melimpah, tanah yang dapat dikelola dalam kondisi kering maupun basah, serta iklim yang mendukung membuat desa ini menjadi pusat produksi bibit dan tanaman pangan.
Perusahaan besar seperti PT BCA (Bibit Central Asia) memanfaatkan lahan Rowosari untuk pengembangan bibit jagung, semangka, melon, hingga cabai. Selain itu, petani setempat juga membudidayakan berbagai komoditas seperti brokoli, tomat, dan sayuran lainnya. Hanya beberapa jenis tanaman seperti kurma, apel, dan manggis yang tidak tumbuh optimal di Rowosari karena faktor ketinggian yang mencapai sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
Luas lahan sawah di Rowosari mencapai sekitar 250 hektare, yang menjadi sumber penghidupan utama warga. Setiap malam, hasil panen berupa sayur-mayur diangkut menggunakan pick up terbuka untuk dikirim ke berbagai daerah, bahkan hingga luar Pulau Jawa. Sistem distribusi yang terbangun membuat Rowosari menjadi pusat sayuran yang diperhitungkan, dengan rantai pasok yang menghubungkan langsung petani, pedagang, hingga pasar di berbagai kota.
Kini, Rowosari bukan lagi desa yang terisolasi. Perpaduan sejarah panjang, kerja keras masyarakat, dan kekayaan alam menjadikannya desa idola sekaligus tulang punggung sektor pertanian di Kecamatan Sumberjambe.