Logo Pemkab Jember

PPID Desa Jember

Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember

226
Total Desa
6438
Artikel Berita
131
Potensi
Pemerintahan Desa

Penguatan Kapasitas Tim Pendamping Keluarga Tahun 2025

Author
Desa Wonorejo Kec. Kencong
07 Oktober 2025 769 Kali Dilihat

Penguatan Kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) Tahun 2025 di Desa Wonorejo : Wujud Komitmen Bersama Menuju Keluarga Sehat dan Bebas Stunting

Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember — Pemerintah Desa Wonorejo terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program nasional percepatan penurunan angka stunting. Salah satu langkah nyata yang dilaksanakan pada tahun 2025 ini adalah kegiatan Penguatan Kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang diselenggarakan di Balai Desa Wonorejo. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kemampuan para kader pendamping dalam menjalankan peran dan tugas mereka di lapangan, khususnya dalam menangani kasus balita stunting dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur penting yang memiliki peran strategis dalam pembangunan kesehatan keluarga, di antaranya Camat Kencong, Kepala Desa Wonorejo, perwakilan TP PKK Kecamatan Kencong, Ketua TP PKK Desa Wonorejo dan Desa Kencong, serta para kader TPK dari dua desa, kader KB, kader kesehatan, dan tenaga medis dari Puskesmas Kencong yang terdiri dari bidan dan perawat. Kehadiran berbagai unsur lintas sektor ini memperlihatkan sinergi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga di tingkat desa.

Sejak pagi hari, suasana Balai Desa Wonorejo telah dipenuhi antusiasme para peserta yang datang dari berbagai wilayah di Kecamatan Kencong. Para kader TPK dengan seragam khasnya tampak bersemangat mengikuti jalannya kegiatan. Ruangan yang telah dihias dengan nuansa hijau dan putih mencerminkan semangat kesehatan dan kebersamaan. Panitia penyelenggara dari Pemerintah Desa Wonorejo bersama TP PKK Desa telah menyiapkan segala kebutuhan kegiatan dengan tertib dan rapi, mulai dari registrasi peserta, penyediaan konsumsi, hingga perlengkapan pelatihan.

Acara diawali dengan pembukaan secara resmi yang disertai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK sebagai bentuk penghormatan dan semangat nasionalisme. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Pemerintah Kecamatan Kencong yang menyampaikan apresiasi kepada Desa Wonorejo atas inisiatifnya melaksanakan kegiatan penting ini. Kehadiran Camat Kencong menjadi bukti nyata dukungan pemerintah kecamatan terhadap kegiatan pemberdayaan kader yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat.

Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa Tim Pendamping Keluarga (TPK) merupakan garda terdepan dalam pelaksanaan program penurunan stunting di tingkat desa. Mereka tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat menuju hidup sehat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas kader menjadi langkah penting agar mereka mampu memahami masalah gizi dan kesehatan keluarga secara komprehensif serta memberikan solusi yang tepat kepada masyarakat yang mereka dampingi.

Selanjutnya, Kepala Desa Wonorejo juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Beliau menegaskan bahwa pemerintah desa memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Melalui kegiatan penguatan kapasitas ini, diharapkan seluruh kader TPK dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan semangat dalam menjalankan tugas-tugas pendampingan. Menurutnya, keberhasilan program penurunan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada pendekatan sosial, edukasi, dan konsistensi kader dalam mendampingi keluarga sasaran di lingkungannya masing-masing.

Memasuki sesi pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan materi dari tenaga kesehatan Puskesmas Kencong. Materi pertama berfokus pada penanganan dan pencegahan stunting pada balita. Dalam sesi ini dijelaskan berbagai faktor penyebab stunting, mulai dari kekurangan gizi kronis, sanitasi lingkungan yang buruk, hingga minimnya kesadaran masyarakat tentang pola asuh dan pemberian makan yang tepat bagi anak usia dini. Para peserta diajak untuk memahami cara melakukan deteksi dini, mencatat data pertumbuhan balita, dan melaporkannya secara berkala kepada petugas kesehatan.

Materi berikutnya membahas tentang penanganan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK). Bidan dari Puskesmas Kencong menjelaskan pentingnya pemantauan kondisi gizi ibu hamil secara rutin, pemberian tambahan asupan gizi, serta edukasi kepada keluarga agar memberikan dukungan penuh selama masa kehamilan. Para kader juga dilatih untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan ibu hamil agar lebih terbuka dan termotivasi menjaga kesehatannya.

Selain fokus pada dua isu utama tersebut, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya ASI (Air Susu Ibu) dalam mendukung tumbuh kembang anak. Materi tentang fungsi dan manfaat ASI, cara mengASIhi yang baik dan benar, serta strategi mempertahankan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama menjadi salah satu sesi yang paling interaktif. Para kader diajak memahami bahwa ASI bukan sekadar asupan makanan bagi bayi, tetapi juga mengandung zat kekebalan alami yang mampu melindungi bayi dari berbagai penyakit.

Bidan narasumber menjelaskan teknik menyusui yang benar, posisi yang nyaman bagi ibu dan bayi, serta cara mengatasi kendala yang sering dialami seperti puting lecet atau produksi ASI yang berkurang. Peserta juga diberikan contoh praktis melalui media visual agar mudah dipahami. Dengan demikian, kader diharapkan mampu memberikan edukasi yang benar kepada para ibu di wilayahnya masing-masing.

Sesi diskusi menjadi bagian yang paling menarik dalam kegiatan ini. Para kader saling berbagi pengalaman lapangan, mulai dari tantangan mendata balita berisiko stunting hingga cara membangun komunikasi yang baik dengan keluarga sasaran. Beberapa kader juga menyampaikan strategi kreatif yang mereka lakukan, seperti mengadakan kelas ibu balita, kunjungan rumah, dan kerja sama dengan posyandu. Melalui forum ini, tercipta suasana belajar yang saling menguatkan antarkader.

Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga menjadi ajang koordinasi antara lintas lembaga. Perwakilan PKK Kecamatan Kencong menegaskan pentingnya sinergi antara PKK, TPK, dan Puskesmas dalam memantau perkembangan keluarga sasaran. PKK sebagai organisasi pemberdayaan keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung kader di lapangan, baik dari sisi edukasi, moral, maupun motivasi.

Tak hanya aspek pelatihan, kegiatan ini juga memperkuat semangat kebersamaan. Di sela-sela pelatihan, peserta beristirahat sambil menikmati hidangan sederhana yang disiapkan panitia desa. Suasana keakraban antar peserta terlihat jelas, menunjukkan kekompakan para kader sebagai satu keluarga besar yang memiliki tujuan sama: menciptakan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Menjelang penutupan, panitia memberikan kesempatan kepada perwakilan peserta untuk menyampaikan kesan dan harapan. Para kader mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan tambahan pengetahuan dan semangat baru dalam menjalankan tugas mereka. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin agar kemampuan kader terus terasah dan selalu mengikuti perkembangan informasi di bidang kesehatan keluarga.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan tamu undangan. Camat Kencong, Kepala Desa Wonorejo, perwakilan PKK, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Kencong tampak berdiri berdampingan dengan para kader TPK dan KB. Foto bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan dan komitmen lintas sektor dalam mewujudkan masyarakat sehat di tingkat desa.

Melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Tim Pendamping Keluarga Tahun 2025 ini, Pemerintah Desa Wonorejo kembali menegaskan dukungannya terhadap program nasional percepatan penurunan stunting. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus memberikan perhatian kepada kader dan mendukung kegiatan pemberdayaan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Kepala Desa Wonorejo dalam penutupannya menyampaikan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Setiap keluarga harus terlibat aktif dalam menjaga kesehatan anak dan ibu hamil, sedangkan kader berperan sebagai pendamping dan penggerak di lapangan.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan seluruh kader TPK di Desa Wonorejo dan sekitarnya semakin siap menjalankan tugas dengan profesional, berpengetahuan luas, dan berempati tinggi terhadap masyarakat yang mereka layani. Peningkatan kapasitas ini menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan tangguh terhadap berbagai tantangan kesehatan di masa depan.

Semangat kolaborasi antara Pemerintah Desa Wonorejo, PKK, Puskesmas Kencong, dan seluruh kader kesehatan menjadi bukti bahwa kerja sama yang solid mampu menciptakan perubahan positif. Desa Wonorejo menegaskan tekadnya untuk terus melangkah maju sebagai desa yang aktif, inovatif, dan berdaya dalam mendukung tercapainya Indonesia Bebas Stunting 2045.

 

Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan memperkuat tekad bersama bahwa generasi sehat berawal dari keluarga yang peduli. Dengan kader-kader tangguh dan berkompeten, Desa Wonorejo siap menjadi contoh nyata dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing di tingkat lokal maupun nasional.

Bagikan: