Logo Pemkab Jember

PPID Desa Jember

Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember

226
Total Desa
6438
Artikel Berita
131
Potensi
Pemerintahan Desa

Penerimaan Mahasiswa KKN Koloboratif tahun 2025

Author
Desa Serut Kec. Panti
28 Juli 2025 568 Kali Dilihat

Tanggal 17 Juli 2025 menandai dimulainya pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Kolaboratif yang diselenggarakan di bawah koordinasi beberapa perguruan tinggi di wilayah

Jember. Program ini melibatkan dua belas mahasiswa terpilih dari berbagai institusi, antar lain

Universitas Jember, Institut Teknologi dan Sains Mandala, Universitas Islam Jember, Universitas

Islam Negeri Kyai Haji Ahmad Shiddiq Jember, yang masing-masing menjadi perwakilan

kampus mereka dalam menjalankan misi pengabdian kepada masyarakat secara lintas disiplin

dan institusi. KKN Kolaboratif tahun ini memiliki nuansa dan tantangan yang cukup berbeda

dibandingkan dengan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut terutama

terletak pada adanya kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (PEMKAB)

Jember. Dalam kebijakan tersebut, seluruh peserta KKN Kolaboratif diwajibkan untuk

melaksanakan serangkaian program kerja tertentu yang telah dirancang dan ditetapkan

sebelumnya oleh PEMKAB. Program-program ini bersifat wajib, artinya tidak boleh diabaikan

atau digantikan oleh kegiatan lain, serta harus diselesaikan dalam jangka waktu yang telah

ditentukan selama masa KKN berlangsung.

Penetapan program kerja wajib ini bertujuan untuk menyelaraskan kegiatan pengabdian

mahasiswa dengan agenda pembangunan daerah. Dengan demikian, sinergi antara dunia

akademik dan pemerintahan daerah dapat tercipta secara nyata melalui implementasi langsung di

tengah masyarakat. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mampu bekerja sama lintas kampus

dan latar belakang keilmuan, tetapi juga ditantang untuk mengintegrasikan ide-ide kreatif mereka

dengan kebutuhan riil masyarakat di lokasi KKN. Situasi ini menuntut para peserta untuk

memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, kerja tim yang solid, serta pemahaman mendalam

terhadap dinamika sosial masyarakat setempat. Di sisi lain, pendekatan kolaboratif ini membuka

peluang bagi pertukaran gagasan, pengayaan pengalaman, serta penguatan jejaring antar

mahasiswa lintas institusi yang sangat berguna bagi pengembangan profesionalisme dan

kepemimpinan di masa depan.

Dengan adanya KKN Kolaboratif tahun ini seakan memberikan nuansa baru yang

tentunya membawa sejumlah perubahan signifikan, mayoritas peserta menyambut baik kebijakan

baru yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Jember. Dengan pendekatan yang

lebih terstruktur dan berbasis program kerja tematik, KKN Kolaboratif 2025 memberikan

pengalaman baru yang memperluas wawasan serta meningkatkan kapasitas pengabdian

mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat.

Ahmad, salah satu peserta KKN Kolaboratif dari perguruan tinggi negeri di Jember,

menyampaikan apresiasinya terhadap konsep dan arah kegiatan yang diusung dalam program ini.

Menurutnya, penetapan tema CINTA (Cerdas, Inklusif, Tangguh) menjadi angin segar dalam

dinamika pelaksanaan KKN masa kini. "Saya rasa dengan adanya program kerja yang telah

ditentukan oleh pihak PEMKAB terhadap kegiatan KKN Kolaboratif ini memang bagus secara

gagasan idenya. Konsep tema CINTA menjadi nuansa baru yang menarik dan bermakna dalam

kegiatan KKN," ungkap Ahmad di Posko 154, Kamis (17/7/2025)

 

Lebih lanjut, ia menilai bahwa program-program seperti sosialisasi kemudahan akses

terhadap pembaruan data administrasi kependudukan, rekonfirmasi data anak tidak sekolah,

hingga penyuluhan di wilayah dengan angka stunting tinggi, merupakan bentuk pengabdian

konkret yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Bahkan, gagasan untuk melakukan rekayasa

sosial dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan swasembada desa menunjukkan adanya

sinergi kuat antara mahasiswa dan pemerintah daerah dalam membangun kemandirian lokal.

Meski waktu pelaksanaan yang tersedia relatif singkat, yakni sekitar 30 hari. Ahmad

menekankan bahwa hal tersebut justru menjadi tantangan positif bagi para peserta untuk

mengasah kemampuan manajerial dan kerja tim mereka secara intensif. “Kami memang dituntut

untuk bergerak cepat dan efisien. Tapi di situlah letak pembelajarannya. Kami harus melakukan

uji sampel, mengelola data, dan menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat desa,”

imbuhnya.

Bagikan: