80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Dalam rangka mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanganan stunting di tingkat desa, Desa Wonorejo menggelar kegiatan bertema “MP-ASI dalam Penguatan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting)”. Acara ini menjadi salah satu bentuk komitmen bersama untuk mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan bebas dari kasus stunting yang masih menjadi perhatian nasional.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, di antaranya Camat Kencong yang diwakili oleh Kasi PMKS, Ketua TP PKK Desa Wonorejo, anggota PKK Desa dan Kecamatan, kader desa, perwakilan dari BKKBN Kabupaten, serta ahli gizi yang hadir memberikan edukasi dan pendampingan langsung.
Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan baru seputar pentingnya pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) yang tepat bagi bayi dan balita, sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting. Program ini merupakan bagian integral dari kegiatan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), yang mengedepankan peran keluarga, khususnya ibu, dalam menyiapkan makanan sehat dan bergizi dari dapur sendiri.
Dalam pemaparan materi yang dibawakan oleh ahli gizi, disampaikan bahwa pemberian MP-ASI bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan anak, namun juga harus memperhatikan komposisi gizi seimbang. Para peserta diingatkan kembali bahwa paradigma lama tentang “4 Sehat 5 Sempurna” kini telah disempurnakan dengan konsep baru yang lebih kontekstual, yaitu “Isi Piringku”.
Jika dulu masyarakat memahami bahwa pola makan sehat terdiri atas empat unsur makanan utama dan ditambah dengan susu sebagai penyempurna, maka saat ini konsep tersebut dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan gizi modern. Penambahan susu secara berlebihan justru bisa meningkatkan risiko obesitas, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Oleh karena itu, konsep Isi Piringku menekankan keseimbangan antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah, tanpa harus menambahkan susu sebagai komponen wajib setiap kali makan.
Melalui penjelasan tersebut, para peserta diajak untuk memahami bahwa gizi seimbang bukan berarti makanan mahal, tetapi bagaimana setiap hidangan yang disajikan bisa memenuhi kebutuhan tubuh dengan porsi yang tepat. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam upaya membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat dan mencegah risiko gizi buruk yang bisa berujung pada stunting.
Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan MP-ASI yang baik dan benar. Para kader, ibu-ibu PKK, serta peserta lainnya diajak untuk mempraktikkan cara mengolah bahan-bahan sederhana menjadi makanan bergizi tinggi untuk anak-anak usia enam bulan ke atas.
Dalam praktik ini, para ahli gizi memberikan bimbingan terkait cara memilih bahan yang segar dan bernilai gizi tinggi, teknik memasak yang tidak menghilangkan kandungan nutrisi, hingga cara menyajikan makanan agar menarik bagi anak. Proses ini menjadi momen pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi peserta, karena mereka dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.
Berbagai menu MP-ASI sederhana diperkenalkan dalam sesi tersebut, mulai dari bubur tim sayur dengan sumber protein hewani, puree buah, hingga menu seimbang berbasis bahan pangan lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi bahan makanan yang mudah diperoleh di sekitar mereka tanpa harus mengandalkan produk instan.
Selain praktik memasak, kegiatan juga menekankan pentingnya kebersihan dan keamanan pangan dalam penyajian MP-ASI. Para ibu diingatkan untuk memperhatikan sanitasi alat masak, cara penyimpanan bahan makanan, serta waktu penyajian agar kualitas makanan tetap terjaga dan aman dikonsumsi anak.
Kehadiran perwakilan dari BKKBN Kabupaten dan PKK Kecamatan Kencong menunjukkan dukungan kuat terhadap pelaksanaan program DASHAT di Desa Wonorejo. Melalui sinergi antara pemerintah, kader, dan masyarakat, kegiatan seperti ini menjadi salah satu strategi efektif untuk menurunkan angka stunting di tingkat lokal.
Program DASHAT sendiri merupakan bagian dari gerakan nasional untuk menekan angka stunting melalui pendekatan berbasis keluarga. Dapur sehat yang digerakkan oleh masyarakat diharapkan mampu menjadi pusat edukasi sekaligus praktik langsung penerapan pola makan bergizi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan nyata yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan MP-ASI dalam Penguatan DASHAT di Desa Wonorejo ini juga menjadi wadah mempererat kolaborasi antara berbagai pihak yang peduli terhadap isu gizi dan kesehatan keluarga. Para kader dan ibu-ibu PKK yang menjadi garda terdepan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, mereka bisa menularkan praktik baik kepada masyarakat luas, khususnya para ibu muda yang sedang dalam masa mengasuh bayi dan balita.
Suasana kegiatan berjalan dengan penuh semangat dan kebersamaan. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, baik saat mendengarkan materi maupun ketika terlibat dalam praktik pembuatan MP-ASI. Setiap kelompok berusaha menampilkan hasil olahan terbaik mereka, yang tidak hanya lezat tetapi juga kaya nutrisi.
Di akhir kegiatan, para peserta menyimpulkan bahwa edukasi gizi seperti ini sangat penting dilakukan secara berkelanjutan. Dengan memahami konsep gizi seimbang dan cara membuat MP-ASI yang benar, masyarakat bisa lebih sadar akan pentingnya memberikan asupan terbaik untuk tumbuh kembang anak.
Kegiatan ini juga sejalan dengan misi besar Desa Wonorejo untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui program-program terarah dan berbasis kebutuhan lokal. Melalui DASHAT, masyarakat diajak untuk lebih mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga, mulai dari dapur sendiri.
Perubahan pola pikir dari “memberi makan” menjadi “memberi gizi” menjadi salah satu capaian penting yang ingin terus dikembangkan melalui kegiatan semacam ini. Pemberian MP-ASI yang tepat, seimbang, dan bervariasi bukan hanya mendukung pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan otaknya, daya tahan tubuh, serta kemampuan sosialnya di masa depan.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi antara pemerintah desa, PKK, BKKBN, dan tenaga ahli gizi, Desa Wonorejo menunjukkan langkah nyata menuju desa sehat dan bebas stunting. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk terus mengembangkan program serupa, dengan pendekatan yang sederhana namun berdampak besar bagi generasi penerus bangsa.
Melalui edukasi gizi, praktik langsung, dan dukungan lintas sektor, Desa Wonorejo membuktikan bahwa upaya menekan angka stunting bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Dari dapur yang sehat, lahir generasi yang kuat, cerdas, dan berdaya saing tinggi.