80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Cabai jawa (Piper retrofractum), tanaman herbal tradisional yang dikenal luas karena manfaatnya bagi kesehatan, kembali menjadi sorotan dalam kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 2025. Tanaman yang sering disebut sebagai “cabai jamu” ini memiliki rasa pedas khas dan telah lama digunakan sebagai bahan obat alami, seperti meredakan gangguan pencernaan, meningkatkan stamina, serta memperlancar sirkulasi darah.
Di Desa Kesilir, khususnya di Dusun Tegal Banteng, cabai jawa menjadi komoditas unggulan yang telah lama dibudidayakan oleh para petani setempat. Sayangnya, hasil panen cabai jawa selama ini umumnya hanya dijual dalam bentuk kering tanpa proses pengolahan yang lebih luas, sehingga nilai jualnya belum maksimal. Melihat potensi besar yang belum tergarap ini, mahasiswa KKN Kolaboratif 2025 hadir membawa semangat perubahan.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pengembangan pertanian lokal, mahasiswa menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Sharing Inovasi Cabai Jawa". Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan bertukar gagasan antara mahasiswa dan para petani, membahas potensi pengembangan produk olahan dari cabai jawa agar memiliki nilai tambah secara ekonomi.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan sebuah trobosan inovatif berupa ‘‘kombucha cabai jawa’’, yaitu sebuah minuman herbal berbasis teh yang difermentasi dengan ragi, ditambah ekstrak cabai jawa sebagai komponen aktif. Inovasi ini tidak hanya memperkaya jenis produk olahan dari cabai jawa, tetapi juga membuka peluang baru bagi petani untuk menjangkau pasar kesehatan dan gaya hidup modern.
Respon para petani pun sangat positif. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap ide baru tersebut dan berharap inovasi ini dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai jual dan keberlanjutan usaha tani mereka. Para petani bahkan menyatakan minat untuk mencoba proses produksi kombucha secara mandiri dengan bimbingan lanjutan dari mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kolaboratif 2025 tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menanamkan semangat wirausaha berbasis potensi lokal. Mereka menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan praktik di lapangan, memperlihatkan bahwa inovasi bisa dimulai dari ladang dan berakhir sebagai terobosan yang membanggakan.