80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Potrait: Acara Sosialisasi dan Edukasi stunting di balai desa Gelang, serta rembuk bersama kader posyandu Kamis (7/8). Photograper : Dokumentasi KKN Kolaborasi 133
STUNTING, Desa Gelang Kecamatan Sumber Baru menjadi lokasi kegiatan edukasi pencegahan stunting yang digelar oleh Mahasiswa KKN Kolaboratif Posko 133 bersama Rumah Desa Sehat (RDS). Kegiatan ini difokuskan pada ibu balita dan kader posyandu sebagai garda terdepan dalam peningkatan gizi anak.
“Fokus utama kegiatan ini adalah Desa Gelang. Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya ibu balita dan kader posyandu, tentang pentingnya pencegahan stunting sejak dini,” ujar Moh. Abdul Faris, mahasiswa KKN Universitas dr. Soebandi, Kamis (7/8).
Berdasarkan data awal, ditemukan 7 kasus stunting dan 7 kasus gizi buruk dari total 947 jiwa di desa tersebut. Temuan ini menjadi latar belakang penting dilaksanakannya kegiatan sosialisasi.
“Data ini menjadi pengingat bahwa stunting masih merupakan persoalan nyata dan perlu penanganan serius dari berbagai pihak,” lanjutnya.
Kegiatan ini tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga dilengkapi dengan praktik membuat puding labu kuning. Menu ini dipilih karena mudah dibuat serta kaya akan nutrisi.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa mencegah stunting bisa dimulai dari dapur. Bahan-bahannya sederhana, terjangkau, dan bisa ditemukan di sekitar rumah,” katanya.
Selain memberikan edukasi, acara ini juga menjadi ruang dialog antara warga, kader posyandu, dan mahasiswa. Forum ini dimanfaatkan untuk merumuskan ide-ide program kesehatan yang dapat dijalankan bersama.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak warga, kader, serta pendamping desa untuk berdiskusi aktif. RDS juga berperan penting dalam merangkul semua elemen desa,” terangnya.
Pria yang sapaan akrabnya Faris menambahkan bahwa antusiasme warga sangat tinggi selama kegiatan berlangsung, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan saat sesi tanya jawab.
“Masyarakat sangat antusias, terutama saat berdiskusi mengenai pola makan anak dan cara deteksi dini stunting. Ini menunjukkan bahwa edukasi seperti ini memang dibutuhkan,” tambahnya.
Panitia juga menyiapkan hadiah untuk peserta yang aktif bertanya. Cara ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi warga.
“Kami ingin suasana kegiatan tetap interaktif dan menyenangkan. Hadiah kecil ini sebagai bentuk apresiasi bagi warga yang semangat belajar,”ucapnya.
Kegiatan ini juga melibatkan tenaga kesehatan desa seperti bidan dan perawat. Kehadiran mereka memperkaya informasi yang disampaikan kepada peserta.
“Kehadiran tenaga medis sangat membantu. Mereka bisa menjawab pertanyaan teknis yang mungkin belum kami kuasai sebagai mahasiswa,” tambahnya.
Mahasiswa KKN berharap Desa Gelang dapat menjadi percontohan dalam upaya pencegahan stunting berbasis komunitas. Dengan kolaborasi yang kuat, desa diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat dan cerdas.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga Desa Gelang menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun masa depan anak-anaknya,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua RDS, Sri Handayani, juga menyampaikan harapannya agar melalui kegiatan ini, ibu balita dan ibu hamil mendapatkan motivasi untuk mencegah stunting di masa mendatang.
“Kami puas dengan kegiatan KKN hari ini. Alhamdulillah, sasaran kegiatan juga hadir. Harapannya, kita bisa sama-sama belajar dan setelah KKN ini berakhir, semoga dapat menurunkan angka stunting di Desa Gelang,” paparnya.
Acara ini tidak hanya sekadar sosialisasi dan edukasi, tetapi juga menjadi momen rembug bersama masyarakat dan kader posyandu setempat.
“Alhamdulillah, antusiasme kader posyandu juga sangat tinggi. Mereka aktif menyampaikan apresiasi dan masukan,” jelasnya.
Srihandani juga menambahkan bahwa masukan dan apresiasi yang diberikan akan diserap sebagai bahan program untuk tahun 2026 mendatang.
“Jadi, hasil dari diskusi ini akan kami usulkan dan programkan sebagai bagian dari evaluasi ke depan. Ini sejalan dengan tema kita, yaitu ‘Gelang Menuju Zero Stunting,’” pungkasnya.
Penulis : Febri Irawan