80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Pada hari Selasa, 22 Juli 2025, mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif
Posko 154 yang ditempatkan di Desa Serut, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, melaksanakan
kegiatan survei lapangan sebagai bagian dari tahap awal pelaksanaan program kerja. Kegiatan ini
dilakukan bersama dengan Bapak Sugik, selaku Kepala Dusun setempat, yang turut
mendampingi mahasiswa dalam melakukan observasi langsung ke lapangan, khususnya di
wilayah persawahan yang tersebar di beberapa dusun di Desa Serut. Survei ini bertujuan untuk
menggali potensi yang dimiliki oleh Desa Serut, khususnya dalam bidang pertanian yang
menjadi sektor utama penggerak ekonomi masyarakat desa. Dengan melakukan observasi
langsung ke sawah dan melakukan wawancara dengan aparat desa serta para petani setempat,
mahasiswa berusaha memperoleh data konkret yang dapat dijadikan dasar penyusunan program
kerja yang relevan, kontekstual, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Hasil dari survei menunjukkan bahwa sektor pertanian di Desa Serut masih menjadi
tumpuan utama mata pencaharian warga. Mayoritas masyarakat desa berprofesi sebagai petani
dengan komoditas unggulan berupa padi, jagung, dan tebu. Ketiga komoditas ini menjadi
andalan karena memiliki nilai ekonomi yang stabil dan dapat diandalkan dalam mendukung
kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan ekonomi desa secara keseluruhan.
Menurut penuturan Bapak Sugik, sistem tanam yang diterapkan oleh para petani sangat
bergantung pada kondisi cuaca dan musim. “Kalau di sini, para petani biasanya menanam padi
sebanyak dua kali dalam setahun, biasanya saat musim penghujan. Setelah itu, pada musim
kemarau, mereka menggantinya dengan menanam jagung. Jadi dalam setahun, bisa dua kali padi,
satu kali jagung, tergantung musimnya, Mas,” jelas beliau saat ditemui di pematang sawah,
Selasa (22/7/2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola tanam seperti ini sudah dilakukan secara turuntemurun dan dianggap paling sesuai dengan kondisi tanah serta iklim di wilayah Desa Serut.
Beberapa petani juga menanam tebu, meskipun dalam skala yang lebih kecil dibandingkan
dengan padi dan jagung, karena keterbatasan lahan dan faktor pemasaran yang belum stabil.
Melalui kegiatan survei ini, mahasiswa KKN mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai
kondisi pertanian dan potensi yang dimiliki oleh Desa Serut. Data ini sangat berguna sebagai
bahan pertimbangan dalam merancang program-program pengabdian yang menyasar pada
penguatan sektor pertanian, seperti penyuluhan pertanian berkelanjutan, pemanfaatan limbah
organik pasca panen, pemetaan lahan produktif, hingga pelatihan diversifikasi hasil panen.
Berdasarkan data dan hasil temuan lapangan mengenai potensi pertanian di Desa Serut,
Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, salah satu peserta KKN Kolaboratif Posko 154, Rafli
Risdiyanto, menyampaikan gagasannya untuk memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum dimaksimalkan oleh masyarakat setempat. Salah satu limbah yang dimaksud adalah
sekam padi, yang jumlahnya sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Dalam penuturannya, Rafli mengamati bahwa limbah sekam padi yang dihasilkan
pascapanen seringkali hanya dibiarkan menumpuk, dibakar, atau dibuang begitu saja, sehingga
tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melihat potensi tersebut, ia pun merancang
sebuah inovasi pemanfaatan limbah sekam sebagai media tanam alternatif bagi tanaman hias
bernilai ekonomi tinggi, seperti anggrek dan jenis tanaman hias lainnya. “Jika saya amati, limbah
sekam padi di sini jumlahnya sangat melimpah. Sayang sekali kalau hanya dibiarkan begitu saja.
Oleh karena itu, saya memiliki rencana untuk mengolahnya kembali menjadi media tanam,
khususnya untuk tanaman hias seperti anggrek. Nantinya, media tanam ini akan kami kemas
semenarik mungkin agar memiliki daya jual dan bisa dipasarkan melalui platform digital maupun
toko-toko bunga hias,” ujar Rafli saat diwawancarai di lokasi survei, Selasa (22/7/2025).
Rencana ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah pertanian, tetapi juga
membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya bagi
kelompok tani maupun ibu rumah tangga yang ingin terlibat dalam usaha pertanian kreatif
berbasis lingkungan. Rafli juga berharap bahwa inisiatif ini bisa menjadi contoh konkret
penerapan konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), yang tidak hanya ramah
lingkungan tetapi juga memiliki dampak ekonomi langsung bagi warga desa.
Inovasi seperti ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN dalam
mendukung pengembangan desa berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan kreatif dan
pemanfaatan teknologi pemasaran digital, peluang pengembangan usaha dari limbah pertanian
menjadi semakin terbuka lebar. Kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat
sangat dibutuhkan untuk merealisasikan gagasan ini agar bisa memberikan manfaat jangka
panjang bagi Desa Serut dan sekitarnya. Dengan adanya kolaborasi aktif antara mahasiswa dan
perangkat desa, diharapkan program KKN Kolaboratif ini mampu menjadi jembatan antara dunia
akademik dan kebutuhan riil masyarakat desa. Hasil survei ini sekaligus menjadi bukti komitmen
mahasiswa untuk menjalankan program pengabdian masyarakat yang berbasis pada kebutuhan
lokal, bukan sekadar formalitas semata.