80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Ledokombo- Survei rekonfirmasi terhadap Anak Tidak Sekolah (ATS) dilakukan oleh siswa Kuliah Kerja Nyata Kolaboratif (KKN-K) Posko 195 yang bertugas di Desa Ledokombo, kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dimulai sejak Jum'at, 25 Juli 2025, sebagai salah satu tugas yang bersifat wajib dan dikerjakan secara individu oleh setiap siswa. Sebanyak lima atau lebih data ATS menjadi tanggung jawab masing-masing siswa untuk diobservasi dan diwawancarai langsung. Langkah awal dimulai dengan meminta izin ke kantor desa atau staf yang bertugas di desa Ledokombo. Setelah meminta izin kita langsung mengeksekusi ke setiap Kasun Ledokombo, mahasiswa KKN-K mendatangi kepala dusun sebagai bentuk perizinan sekaligus koordinasi agar lebih mudah mengenai alamat rumah anak yang tercantum dalam ATS. Setelah itu, siswa melanjutkan ke ketua RT dan RW setempat untuk menelusuri keberadaan anak-anak yang tercantum dalam sistem mydispendik. Mahasiswa KKN-K yang menjadi pelaksana utama dalam proses ini, bertugas mengamati langsung situasi dan kondisi anak, serta menggali informasi melalui wawancara. Seluruh data yang dihimpun kemudian dicocokkan dengan informasi awal dari mydispendik untuk memastikan keakuratan dan validitasnya. Instrumen survei yang digunakan Merujuk pada format dari mydispendik, mencakup informasi umum anak, klasifikasi ATS, serta sejumlah faktor penyebab tidak bersekolah seperti ekonomi, kesehatan, kondisi sosial, geografis, pendidikan, dan keluarga. Selain itu, indikator lain juga dimasukkan, seperti status gizi, riwayat pindah sekolah, prestasi akademik terakhir, keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler, hingga rekomendasi tindak lanjut. Hasil dari lapangan menunjukkan sebagian anak yang tercatat sebagai ATS ternyata memang tidak sekolah. Sebagian lainnya memang mengalami putus sekolah, sebagian besar karena keterbatasan ekonomi keluarga dan kebanyakan bekerja di luar kota. Selain itu, terdapat kesalahan dalam sistem mydispendik, dimana umur yang diatas 50 atau kelahirannya tahun 1970 masih terdeteksi dalam ATS. Temuan-temuan ini menunjukkan pentingnya peran mahasiswa KKN-K dalam membantu memverifikasi kondisi di lapangan secara langsung, karena dari hasil temuan terdapat masalah keakuratan data dan perlunya pembaruan berkala oleh pihak terkait. Melalui survei rekonfirmasi, mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga memastikan bahwa data yang digunakan dalam program penanganan ATS benar-benar mencerminkan situasi aktual. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar sekaligus kontribusi nyata dalam mendukung perbaikan sistem pendataan dan penanganan masalah pendidikan di tingkat desa.