80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Foto : SD Negeri Gelang 02, Paci, Sumberbaru
Jumat (01/08), suasana jalanan di antara Desa Gelang hingga Desa Karangbayat tampak lebih lengang dari biasanya. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB, jam sibuk anak-anak menuju sekolah. Namun, akibat penutupan Jalan Gumitir yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi, distribusi bahan bakar minyak (BBM) tersendat dan berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat Desa Gelang, termasuk sektor pendidikan.
Antrean motor dan kendaraan lain untuk mendapatkan bensin tampak mengular hingga puluhan meter, baik di kawasan kota Jember maupun pelosok pegunungan seperti Desa Gelang. Warga yang panik melakukan pembelian dalam jumlah besar (panic buying) turut memperparah situasi. Harga BBM eceran pun melambung, dari biasanya Rp12.000 per liter menjadi Rp20.000 per liter.
Situasi ini membuat beberapa sekolah terpaksa mengalihkan metode pembelajaran menjadi daring menurut SE dari dinas. Namun kondisi tersebut dinilai tidak efektif oleh beberapa guru dan wali murid. Hoiriyah, seorang guru SD di wilayah pegunungan Desa Gelang menyatakan bahwa metode pembelajaran daring tidak berjalan maksimal karena keterbatasan fasilitas di kalangan siswa.
"Kami menyayangkan sekali, karena tidak semua anak memiliki HP untuk melaksanakan daring. Anak-anak jadi tertinggal pelajaran dan saat diberi soal, mereka malah bermain. Jadi lebih enak tetap tatap muka karena anak-anak bisa langsung bertanya kepada guru," ungkap Hoiriyah.
Ia juga menambahkan bahwa mayoritas anak di sekolah pegunungan datang dengan berjalan kaki, sehingga kendala transportasi akibat kelangkaan BBM tidak terlalu berdampak. Namun jika pembelajaran dialihkan secara daring, kebutuhan akan perangkat dan internet menjadi hambatan baru yang signifikan bagi siswa dan guru.
Foto : Anak Sekolah Dasar Gelang 02 saat Libur (01/08)
Mila, wali murid dari siswa kelas 1 SDN Karangbayat 03 menyampaikan hal serupa. Ia menilai bahwa anak-anak usia dini justru membutuhkan pembelajaran langsung untuk membangun kedekatan dengan guru dan teman-teman mereka. Menurutnya, sistem daring justru membuat anak lebih fokus bermain HP daripada belajar.
"Kalau bisa jangan sampai daring lagi. Anak saya masih kelas 1, belum bisa maksimal kalau belajar dari rumah. Tahun kemarin waktu daring juga anaknya bingung dan tidak tahu harus bagaimana," tutur Mila.
Sementara itu, David, siswa SMKN 6 Jember yang tinggal di Dusun Paci, Gelang, hanya bisa menyampaikan singkat rasa kecewanya, “Nggak enak libur, baru masuk itu Kamis.” Pernyataan ini menunjukkan betapa siswa juga merasa terganggu dengan perubahan sistem belajar mendadak akibat kendala transportasi dan BBM.
Penulis : KKN-K 133 Gelang 2025
Baca berita lain di sini