80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Sumberjambe, Jember – 19 Agustus 2025
Mentari siang menyengat ringan di Desa Sumberjambe, namun suasana di halaman Yayasan Fatihul Ulum justru semakin hangat karena gelak tawa dan sorak sorai mulai menggema. Hari itu, Rabu, 13 Agustus 2025, tak seperti biasanya. Usai jamaah salat Dzuhur, anak-anak, para santri, guru, dan warga desa mulai berdatangan dengan wajah penuh semangat.
Mahasiswa KKN Kolaboratif 203 bersama dengan Yayasan Fatihul Ulum merangkai beberapa perlombaan beberapa saran lomba yang dibuat oleh mahasiswa KKn dan setengahnya dibuat oleh para gura atau usztad di Yayasan Fatihul Ulum
Dari Pisang Sampai Tepung, dari Tertawa Sampai Kompak
Tepat setelah salat Dzuhur, lomba dimulai dengan aba-aba dari panitia KKN. Lomba pembuka adalah makan pisang dengan mata tertutup. Para peserta berdiri berjajar dengan mulut terbuka lebar, berusaha menggigit pisang yang dipegang oleh temannya — tentu saja sambil ditutup matanya. Sorak-sorai penonton dan gelak tawa tak terbendung saat peserta malah menggigit udara atau malah saling dorong karena tak sabar.
Selanjutnya adalah lomba PBB (Peraturan Baris Berbaris), yang menjadi momen serius sekaligus membanggakan. Peserta dari tingkat Madrasah menunjukkan keterampilan baris-berbaris yang rapi dan penuh semangat. Terik matahari tak menghalangi kekompakan langkah mereka. Suara komandan tim menggema lantang di halaman yayasan, mencerminkan semangat kedisiplinan yang dibangun dari lingkungan pendidikan pesantren.
Tak lama, suasana kembali mencair ketika dimulai lomba pukul air dalam plastik. Plastik-plastik bening berisi air digantung tinggi, dan peserta dengan mata tertutup diberi tongkat untuk memukul. Tak sedikit peserta yang malah memukul angin atau justru kena cipratan air sendiri — membuat tubuh basah, namun hati tetap riang.
Salah satu lomba yang paling mencuri perhatian adalah koin dalam tepung. Anak-anak dengan wajah penuh harap bersiap membenamkan wajah ke dalam wadah berisi tepung demi mencari koin tersembunyi. Dalam hitungan detik, wajah mereka berubah putih total, mata melotot lucu, dan mulut tertawa geli. Penonton tak kalah heboh menyemangati sambil merekam momen lucu itu dengan ponsel mereka.
Terakhir, lomba estafet air dengan gelas menantang kerja sama dan strategi tim. Peserta harus memindahkan air menggunakan gelas plastik, dari ember ke botol di ujung lintasan. Tentu saja, airnya lebih banyak tumpah daripada yang tersisa. Namun, justru di situlah letak keseruan — saat satu tim tertawa karena gagal, tim lain bersemangat mencuri keunggulan.
Antusiasme yang Tak Terbendung
Meskipun kegiatan dimulai di siang hari, antusiasme peserta tidak menurun sedikit pun. Justru, karena dilaksanakan usai Dzuhur, banyak santri dan warga yang baru selesai aktivitas pagi bisa ikut serta. Hal ini disampaikan olehUsztad Rofiqi, salah satu guru Fatihul Ulum.
“Biasanya anak-anak ngantuk kalau siang, tapi hari ini justru semuanya semangat luar biasa. Mereka bahkan sudah menunggu dari pagi karena tahu lombanya setelah Dzuhur,” ujarnya sambil tersenyum.
Koordinator KKN Kolaboratif 203, Lailatul Zahro mengatakan bahwa pelaksanaan lomba di siang hari memang sudah direncanakan agar tidak mengganggu kegiatan belajar pagi hari serta memberi kesempatan yang lebih luas bagi siswa tingkat atas dan guru untuk ikut serta.
“Kami sengaja memilih waktu siang setelah Dzuhur agar anak-anak punya waktu istirahat, lalu bisa ikut lomba dengan energi penuh. Ternyata benar, mereka justru makin heboh dan semangat,” ujarnya.
Kolaborasi yang Berarti
Kegiatan ini menjadi bukti nyata kolaborasi yang harmonis antara mahasiswa KKN dan Yayasan Fatihul Ulum. Tidak hanya sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana membangun karakter melalui lomba yang mengasah kekompakan, kesabaran, dan keberanian tampil.
Perwakilan dari Yayasan Fatihul Ulum Usztad Alfian menyampaikan rasa bangga dan harapannya agar sinergi seperti ini bisa terus berlanjut.
“Kami senang bisa bekerja sama dengan mahasiswa KKN. Mereka datang bukan hanya membawa program, tapi juga membawa semangat, tawa, dan inspirasi bagi anak-anak kami,” ucapnya.
Penutup Penuh Kesan
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah sederhana namun penuh makna. Pemenang lomba mendapatkan bingkisan berupa alat tulis, makanan ringan, dan piagam penghargaan. Namun lebih dari itu, semua yang hadir membawa pulang sesuatu yang lebih penting: kebahagiaan dan kenangan tentang sebuah siang yang tidak biasa.
“Saya enggak menang, tapi saya senang. Besok-besok ikut lagi kalau ada,” ujar Rega, siswa kelas 4 sambil memegang pipinya yang masih bertepung.
Kegiatan ini bukan sekadar rangkaian lomba. Ia adalah wujud nyata dari semangat gotong royong, pendidikan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat — yang semuanya dikemas dalam tawa, tepung, dan air tumpah di siang hari Desa Sumberjambe.