Logo Pemkab Jember

PPID Desa Jember

Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember

226
Total Desa
6438
Artikel Berita
131
Potensi
Pemerintahan Desa

Gemilang! Festival “Ancak Agung” Pemkab Jember Pecahkan Rekor MURI.

Author
Desa Karangbayat Kec. Sumberbaru
26 September 2025 687 Kali Dilihat

Jember, 24 September 2025 – Pemerintah Kabupaten Jember sukses menyelenggarakan acara kebudayaan dan keagamaan spektakuler bertajuk Ancak Agung pada Rabu (24/9) lalu, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara yang dipusatkan di Alun‑Alun Nusantara Jember ini tidak hanya menarik perhatian ribuan masyarakat lokal, tetapi juga berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) dengan jumlah ancak atau gunungan hasil bumi terbanyak yang diarak: 449 ancak.

Selain parade budaya, acara ini juga diisi dengan pengajian umum yang menghadirkan KH Holil As’ad asal Situbondo sebagai penceramah utama, sehingga menggabungkan aspek religius dan budaya dalam satu rangkaian kegiatan besar. 

Dalam nuansa kebersamaan dan keberkahan, acara “Ancak Agung” menjadi momentum bersejarah bagi Jember—baik secara simbolik maupun prestasi formal. Berikut liputannya:

Deskripsi Acara dan Rangkaian Kegiatan Persiapan dan Tema

Dalam beberapa hari menjelang acara, pihak Pemkab Jember melalui Dinas Komunikasi dan Informatika bersama Dinas Kebudayaan dan instansi terkait telah menggelar persiapan tinggi. Acara dicanangkan di Alun-Alun Nusantara Jember dengan tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember”

Dalam rilis resmi dan konferensi pers, dikabarkan bahwa target awal adalah 500 gunungan ancak, namun pada pelaksanaan akhirnya terkumpul 449 ancak dari berbagai elemen masyarakat. ANTARA News+3TIMES Indonesia+3Sketsa Nusantara+

Parade ancak dimulai dari pagi menuju sore, dengan pengumpulan dan arakan gunungan hasil bumi yang melibatkan desa, kelurahan, OPD, sekolah, perbankan, rumah sakit, dan institusi lainnya. TIMES Indonesia+3detikcom+3TIMES Indonesia+3

Kirab Ancak dan Rekor MURI

Pada hari H, 24 September 2025, ribuan warga tumpah ruah ke jalan-jalan utama, menyaksikan kirab ancak yang memulai rute dari jalan‑jalan strategis (seperti Jalan Sultan Agung) menuju Alun-Alun Jember. ANTARA News+3Radar Jember+3detikcom+

Setibanya di alun-alun, gunungan tersebut didoakan bersama dan kemudian dibagikan kepada masyarakat hadir sebagai simbol keberkahan dan kepedulian sosial. TIMES Indonesia+3ANTARA News+3detikcom+3

Karena jumlah ancak yang terkumpul—449 buah—melebihi rekor lama (99 gunungan di Kabupaten Demak) maka panitia dan Pemkab Jember mencatatkan prestasi baru di MURI. Sketsa Nusantara+4ANTARA News+4Antara News Jawa Timur+4

Perwakilan MURI, Sri Widayati, menyerahkan piagam penghargaan langsung kepada Pemkab Jember sebagai pencatat rekor MURI ke‑12.400 kategori “Ancak terbanyak dalam peringatan Maulid Nabi”. ANTARA News+1

Pengajian Umum oleh KH Holil As’ad

Selesai parade budaya, dilanjutkan malam harinya dengan pengajian umum di alun-alun. KH Holil As’ad asal Situbondo menjadi penceramah utama, tampil di hadapan jamaah yang memadati lokasi. TIMES Indonesia+2TIMES Indonesia+2

Pengajian malam itu turut dimeriahkan dengan lantunan sholawat, doa bersama, dan tausiyah keagamaan yang mengajak masyarakat untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. TIMES Indonesia+1

Dalam pengajian, KH Holil As’ad menyampaikan bahwa peringatan Maulid bukan sekadar ritual, tapi momentum introspeksi dan penguatan iman. Beliau mengajak agar tradisi budaya seperti ancak digabungkan dengan spirit keagamaan agar tidak sekadar tampilan fisik. (Untuk konteks umum pengajian beliau di Jember ini, referensi media menyebut namanya sebagai penceramah utama) TIMES Indonesia+2TIMES Indonesia+2

Makna, Dampak, dan Harapan Festival Simbol Budaya dan Keagamaan

Festival “Ancak Agung” bukan hanya parade gunungan, tetapi mengandung makna simbolik—penghormatan kepada syiar Nabi Muhammad SAW, rasa syukur masyarakat atas rezki yang diberi Allah, dan wujud kebersamaan sosial. Sketsa Nusantara+3ANTARA News+3detikcom+3

Gunungan hasil bumi yang dibagikan kepada masyarakat dianggap bentuk nyata kepedulian sosial dan ukhuwah antarwarga. ANTARA News+2Sketsa Nusantara+2

Acara ini diharapkan menjadi ikon budaya dan religius tahunan yang mengangkat citra Jember sebagai kota santri dan pusat tradisi yang kreatif. detikcom+3ANTARA News+3TIMES Indonesia+3

Prestasi MURI dan Pencapaian Lokal

Keberhasilan mencatat rekor MURI dengan 449 ancak menciptakan momentum kebanggaan lokal dan pengakuan nasional. ANTARA News+2TIMES Indonesia+2

Dalam sambutannya, Bupati Jember, Muhammad Fawait — melalui Plt. pejabat atau langsung — menyatakan kebanggaannya, bahwa rekor ini bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan representasi semangat kebersamaan dan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan keagamaan. TIMES Indonesia+2detikcom+2

Ia juga menyatakan komitmen pemerintah untuk menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan yang terus dikembangkan dan lebih dikenal di tingkat nasional, sekaligus memberi dampak ekonomi bagi UMKM dan pariwisata Jember. detikcom+1

Kabag Kesra Pemkab Jember, Nurul Hafid Yasin, mengungkapkan bahwa target awal 500 ancak tidak tercapai, tetapi jumlah 449 sudah sangat signifikan. Lebih dari itu, dari ratusan gunungan, 10 ancak terbaik dipilih berdasarkan kreativitas, kelengkapan isi, dan pesan budaya. TIMES Indonesia+3detikcom+3ANTARA News+3

Efek Sosial dan Ekonomi Lokal

Kegiatan ini juga membuka ruang bagi aktivitas ekonomi lokal. Dengan ribuan warga hadir, pedagang, pelaku UMKM, dan produsen hasil bumi ikut merasakan manfaat dari pasar lokal yang hidup selama acara. Beberapa media lokal menyoroti bagaimana keramaian acara mendorong transaksi kecil di sekitar lokasi acara. k-radiojember.com+1

Selain itu, event ini berpotensi menarik wisatawan budaya-religi ke Jember, terutama jika dipromosikan sebagai ikon pariwisata tahunan. ANTARA News+2TIMES Indonesia+2

Komentar Kepala Desa Karangbayat, Abdullah H. Moh. Amin

Sebagai desa yang cukup jauh dari pusat kota, Desa Karangbayat tak ketinggalan ikut meresapi momentum istorik ini. Kepala Desa Karangbayat, Abdullah H. Moh. Amin, memberikan tanggapan tentang pelaksanaan acara dan maknanya bagi warganya:

“Saya sangat bangga bahwa Kabupaten Jember mampu menghadirkan festival budaya dan religi sebesar ini, sekaligus memecahkan rekor MURI. Bagi warga Karangbayat, acara Ini menjadi inspirasi bahwa tradisi lokal dan nilai keagamaan bisa berjalan seiring.

“Saya berharap agar kedepan warga Karangbayat juga dapat ikut serta secara aktif dalam festival seperti ini—baik menyumbangkan gunungan hasil bumi maupun ikut hadiri pengajian. Lebih dari itu, saya mengajak agar nilai ukhuwah dan kebersamaan yang terjalin malam ini tidak berhenti, melainkan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di desa.”

Kades Amin juga menyoroti bahwa pembagian hasil bumi seusai parade menjadi momentum spiritual dan sosial:

“Ketika gunungan-gunungan itu dibagikan kepada masyarakat, kita merasakan langsung simbol saling berbagi. Ini bukan sekadar tontonan, melainkan edukasi bahwa umat Islam diajak untuk tulus memberi, bukan hanya menerima.”

Dengan harapan bahwa Karangbayat bisa menjadi bagian aktif dalam gelombang budaya dan religi di Jember, Kades Amin menyatakan kesiapannya memfasilitasi warga dalam turut menyukseskan acara tahun depan.

Kritik, Catatan, dan Tantangan ke Depan

Tentu dalam skala besar seperti ini, tetap ada catatan dan tantangan yang perlu diperhatikan agar acara serupa makin baik dan berkelanjutan:

  1. Logistik dan Organisasi Gunungan
    Persiapan 500 gunungan yang direncanakan tidak sepenuhnya tercapai—hadir “hanya” 449—menunjukkan tantangan dalam koordinasi antar desa, kelurahan, dan institusi. TIMES Indonesia+2Sketsa Nusantara+2

  2. Penyebaran Manfaat
    Pastikan pembagian hasil bumi berlangsung tertib dan merata agar tidak menimbulkan kerumunan berlebih atau ketidakadilan.

  3. Rangkaian Keagamaan
    Pengajian dengan KH Holil As’ad menjadi daya tarik, tetapi harus diimbangi fasilitas pengamanan, kenyamanan jamaah, dan protokol ibadah agar esensi dakwah makin tersampaikan.

  4. Sustainabilitas Acara Tahunan
    Agar bukan “sekali jadi”, pihak Pemkab perlu menyiapkan roadmap tahunan agar Namun, pendanaan, sponsorship, dan promosi ke tingkat regional/nasional diperlukan agar acara makin dikenal luas.

  5. Monitoring dan Evaluasi Tahunan
    Evaluasi terhadap aspek kekurangan, seperti manajemen keramaian, akses warga kecil, dan dampak ekonomi lokal, agar penyelenggaraan tahun berikutnya lebih matang.

Penutup

Hari Rabu, 24 September 2025 akan dikenang sebagai hari bersejarah dalam perwajahan budaya dan religi Kabupaten Jember. Festival Ancak Agung yang memecahkan rekor MURI dengan 449 ancak telah memperlihatkan betapa masyarakat, pemerintah, dan tokoh agama bisa bersinergi dalam melestarikan tradisi sekaligus memperkuat ukhuwah.

Pengajian umum yang dihadiri KH Holil As’ad menjadi bagian penting untuk menyatukan dimensi agama dan budaya dalam satu rangkaian acara mulia. Komentar Kepala Desa Karangbayat, Abdullah H. Moh. Amin, mencerminkan semangat desa kecil turut serta dalam gelombang kebudayaan besar, serta harapan agar nilai-nilai berbagi dan kebersamaan terus hidup di akar masyarakat.

 

Ke depan, tantangan untuk mempertahankan kualitas, meningkatkan partisipasi, dan memperluas dampak ekonomi‑kultural tetap terbuka. Namun momentum ini sudah menancapkan pijakan kuat: bahwa Jember, lewat budaya dan religinya, mampu tampil bukan hanya sebagai penyelenggara acara spektakuler, tetapi sebagai simbol kebangsaan, gotong-royong, dan iman yang hidup.

Bagikan: