80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Dari Lahan Sempit Menuju Hasil Melimpah: Potensi Pengembangan Hidroponik di Desa Tamansari Wuluhan
Kabupaten Jember merupakan salah satu sektor pertanian yang menopang kehidupan masyarakat pedesaan. Namun, berkurangnya lahan produktif akibat alih fungsi tanah dan meningkatnya jumlah penduduk membuat para petani dituntut untuk berinovasi agar tetap dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satu inovasi yang kini mulai diminati adalah pertanian hidroponik.
Di Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember,sistem hidroponik mulai dilirik sebagai alternatif potensial untuk meningkatkan kesejahteraan petani di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Desa ini dikenal memiliki potensi besar di bidang pertanian, dengan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Namun, para petani masih menghadapi tantangan berupa hasil panen yang tidak stabil, serta ketergantungan pada metode tanam tradisional.
Menanggapi kondisi tersebut,mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 15 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember Berinisiatif memperkenalkan dan mengembangkan sistem pertanian hidroponik di wilayah tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar mampu mengelola sistem hidroponik secara mandiri.
Ø “Kami melihat potensi besar di Tamansari untuk mengembangkan hidroponik. Selain bisa menjadi solusi atas keterbatasan lahan, sistem ini juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dikelola dengan baik,” ujar salah satu mahasiswa KKN Posko 15.
Salah satu petani di Dusun Kebonsari bahkan telah mulai memanfaatkan teknologi hidroponik, yaitu metode menanam tanpa tanah menggunakan air yang telah diberi larutan nutrisi bagi tanaman. Hasilnya cukup menjanjikan. Tanaman tumbuh lebih cepat, hasil panen dan memiliki kualitas yang tinggi.
Sistem hidroponik juga memiliki banyak keunggulan. Selain tidak membutuhkan lahan luas karena bisa diterapkan di pekarangan rumah, atap bangunan, atau lahan tidak subur penggunaan air dan pupuknya jauh lebih efisien. Dengan sistem sirkulasi tertutup, air dapat dihemat hingga 80 persen dibandingkan pertanian konvensional, sangat cocok untuk kondisi Wuluhan yang sering mengalami kemarau panjang.
Tanaman seperti selada, kangkung, bayam, pakcoy, dan sawi menjadi komoditas utama yang dibudidayakan. Produk ini memiliki nilai jual tinggi dan diminati pasar modern serta konsumen perkotaan yang mengutamakan kebersihan dan kualitas sayuran.
Dari sisi ekonomi, hidroponik berpotensi besar meningkatkan pendapatan petani. Jika dikelola secara profesional, hasil panen dapat dipasarkan ke pasar lokal hingga luar daerah dengan harga kompetitif. Selain itu, kegiatan edukasi dan wisata hidroponik juga bisa menjadi peluang tambahan bagi masyarakat.
Namun, pengembangan sistem ini masih menghadapi kendala, terutama minimnya pengetahuan teknis, keterampilan, dan modal awal untuk membeli peralatan seperti pipa, pompa air, dan nutrisi tanaman. Karena itu, mahasiswa KKN UIN KHAS Jember mendorong adanya dukungan dari pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan pihak swasta untuk memperkuat pendampingan teknis dan bantuan sarana produksi.
Ø “Kami berharap kegiatan KKN ini menjadi langkah awal agar masyarakat lebih terbuka terhadap inovasi pertanian modern. Harapannya, Tamansari bisa menjadi desa percontohan hidroponik di Kabupaten Jember,” tambah (Huda) koordinator posko 15
Mahasiswa KKN juga berencana membantu memperkenalkan hidroponik sebagai wadah bagi petani untuk bertukar pengalaman, bekerja sama dalam produksi, dan memperluas jaringan pemasaran. Dengan kolaborasi yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan dunia pendidikan, Desa Tamansari berpotensi menjadi sentra produksi sayuran hidroponik di wilayah Wuluhan bahkan di Kabupaten Jember.
Penerbitan: KKN posko 15 Tamansari
Universitas Islam negeri Kiai haji Achmad Shiddiq Jember
Tanggal: 30 Oktober 2025