80)">
Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi Desa Kabupaten Jember
Sumberpakem, Sumberjambe. Jika biasanya kopi dikenal dengan citarasa pahit dan kadar kafein yang tinggi, maka berbeda halnya dengan kopi yang diproduksi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Santoso di Desa Sumberpakem. Mengusung nama produk “Cardamooa”, kopi ini memadukan biji kopi robusta dengan rempah-rempah lokal, menciptakan sensasi unik dalam setiap tegukan.
Keistimewaan produk kopi ini terletak pada racikannya. Perbandingan antara kopi dan rempah adalah 1:3, sehingga menghasilkan cita rasa yang kuat akan kapulaga, kayu manis, dan jahe, namun tetap menyisakan jejak robusta yang khas. Komposisi ini membuat kadar kafein dalam “Cardamooa” tergolong rendah, menjadikannya cocok untuk penikmat kopi yang menghindari efek stimulan berlebih. Biji kopi yang digunakan berasal dari kawasan sekitar seperti Rowosari, Gunung Malang, Pringgodani, dan Jambearum semuanya masih dalam wilayah Jember, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi unggulan.
Setiap kemasan “Cardamooa” berisi 100 gram dan dijual seharga Rp30.000. Secara segmentasi pasar, produk ini bersaing dengan kopi Kalibaru yang sudah lebih dahulu dikenal luas. Meski demikian, “Cardamooa” telah menembus pasar antar daerah dan bahkan pernah mencapai Kalimantan sebagai wilayah distribusi terjauh dalam negeri.
Dalam hal pemasaran, KTH Santoso sudah mulai memanfaatkan media sosial. Akun Instagram @Cardamooa menjadi etalase digital utama mereka. Namun, pengelolaan konten dan interaksi dengan konsumen masih terus dalam proses pengembangan agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Meski penjualannya sudah mulai meluas, proses pengemasan dan penyajian masih terkendala oleh keterbatasan alat produksi. Namun dari sisi visibilitas lokasi, produk ini sudah cukup mudah ditemukan karena sudah terdaftar di Google Maps.
Kehadiran “Cardamooa” menunjukkan bahwa kreativitas lokal dapat menjadi nilai jual yang kuat, terutama ketika dipadukan dengan kearifan lokal dan kekayaan rempah Indonesia. Lebih dari sekadar minuman, kopi kapulaga ini menjadi simbol kerja kolektif masyarakat desa dalam mengelola sumber daya hutan dan memperkenalkan cita rasa khas Sumberpakem ke lidah nasional.